almatuq.sch.id – Dalam rangka mengadakan kegiatan yang menarik dan inovatif, bagian Bahasa Markaz Al-Ma’tuq menggelar Talkshow perdana pada Ahad pagi kemarin. Kegiatan yang diadakan selepas Muhadatsah Shobah ini berlokasi di depan gedung Indonesia dan disaksikan oleh santri.

Narasumber pertama, yaitu seorang Guru Bahasa Inggris yang kaya akan pengalaman, Ustadz Beni Safitra atau lebih akrab disapa Mr. Beni. Beliau merupakan salah satu utusan delegasi Da’i Indonesia yang dikirimkan ke London, Inggris dalam program “English for Dakwah” dibawah naungan pemerintah Indonesia.

Selanjutnya narasumber kedua merupakan alumni markaz Al-Ma’tuq yang telah menyelesaikan studinya di Universitas Islam Madinah, yaitu Ustadz Mumuh Mukhtarudin. Dua maestro bahasa Inggris dan Arab ini berbagi pengalaman belajarnya dalam mempelajari Bahasa Asing.

Talkshow dimulai dengan sesi Bahasa Inggris, “Yang saya ingin sampaikan pada kalian semua, mulai dari sekarang hilangkan rasa malu hilangkan rasa canggung.” Kiranya begitulah nasihat yang diberikan oleh Mister Beni. Tak bisa dipungkiri, esensi dari mempelajari bahasa adalah prakteknya. Mister Beni juga mengingatkan bahwa pada prakteknya memang tidak mudah dan pasti akan ditemui banyak kesalahan. Tapi dari banyaknya kesalahan yang dibarengi evaluasi akan lahir pemahaman bahasa yang baik.

Mister Beni juga bercerita, “I came to London for dakwah not anything else” begitu tegasnya “And we can do it, we can make it, we can have it.” Hal ini beliau sampaikan sebagai bukti bahwa para santri bisa ikut meneruskan perjuangan dakwah beliau di benua Eropa.

Lain halnya dengan sesi Bahasa Arab, dimulai dengan cerita menarik yang disampaikan Ustadz Mumuh dalam mempratekkan bahasa dengan native speaker sangat bermanfaat. “Saya dulu sering membantu Syaikh setiap pagi untuk ke warung membeli tepung, daging dan sayuran. Saya berkomunikasi langsung dengan masyarakat menggunakan Bahasa Arab. Dari sanalah akhirnya menjadi terbiasa dan lancar berbahasa Arab”. Beliau juga menasehati bahwamembiasakan untuk berbahasa Asing harus selalu dilakukan meskipun kita sudah di Universitas. “Kalau kita bertemu dengan orang Indonesia pasti kita ngobrol dengan bahasa Indonesia, makanya sya memilih ngobrol duduk bersama dengan orang Palestina, Rusia, Armenia, dan Turki untuk membiasakan Bahasa Arab.”

Terakhir, acara yang seru ini ditutup dengan tanya-jawab. Semoga motivasi yang disampaikan dapat menambah semangat santri dan menjadi inspirasi untuk menguasai bahasa Arab dan Inggris, sehingga mampu meneruskan estafet dakwah di masa depan. Amin.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.