Duka Ibu Pertiwi.

Akhir-akhir ini ibu pertiwi sedang dirundung kesusahan dan didera kesakitan, luka lama belum pulih sempurna, luka baru datang silih berganti. Air matanya berlinang, mas intannya terjual. Hutan gunungnya terbakar, sungai dan lautnya tercemar. Kota-kotanya tergenang, desa-desanya meradang. Kini Ibu sedang lara, merintih dan berdo’a.

Rasanya, tulisan ini tidak bisa memuat rentetan kejadian demi kejadian secara mendetail. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat sebanyak 197 bencana terjadi di seluruh wilayah Indonesia sejak 1 hingga 23 Januari 2021. Entah berapa ribu jiwa yang sudah menjadi korban. Belum lagi Covid-19 yang sampai saat ini belum berakhir informasinya, entahlah hanya Allah ‘azza wajalla yang mengetahuinya.

Dunia Adalah Ruang Ujian.

Semua sepakat bahwa dunia ini adalah tempat ujian dan cobaan, baik muslim maupun kafir tidak akan terlepas dari keduanya. Bedanya, seorang muslim mempunyai pendekatan tersendiri dalam menghadapinya, sehingga semuanya nampak terasa ringan.

Seorang muslim meyakini sepenuhnya bahwa semua yang terjadi di muka bumi ini atas kehendak Allah ‘azza wajalla. Didesain sedemikian rupa untuk kemaslahatan semua makhluk-Nya, kendati tidak semua kejadian di alam semesta ini diperlihatkan hikmahnya.

Apabila Allah ‘azza wajalla belum memberikan apa yang dinginkan, maka janganlah bersedih, yakinlah Allah ‘azza wajalla lebih mengetahui apa yang terbaik untuk hamba-Nya. Belum tentu yang dicintai itu baik adanya, ada kalanya yang terjadi justru sebaliknya. Jangan tergesa-gesa untuk bahagia atau berduka. Sejatinya, suka maupun duka nilai akhirnya akan sama bagi seorang mumin yang bisa bersyukur dan bersabar. Allah azza wajalla berfirman:

وَعَسَىٰ أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. (Al-Baqarah:216)

Jurus Menghadapi Musibah.

Berikut ini beberapa kaidah dalam menghadapi musibah yang disampaikan oleh Syaikh Umar bin Abdullah Al-Muqbil Dosen di Universitas Al-Qosim Arab Saudi. Penulis coba terjemahkan dan sederhanakan dalam beberapa poin penting, yang selanjutnya disebut dengan 8 jurus jitu dalam menghadapi musibah (https://ar.islamway.net/article/40877/قواعد في تلقي المصائب):

1.  Menghibur diri dengan mengingat bahwa musibah ini bukan hanya anda yang mengalaminya, yang lain pun merasakan hal yang sama, bahkan mungkin lebih dari apa yang anda rasakan. Seorang shahabiah yang terkenal dengan sebutan Al-Khansa (w. 24 H) merasa terhibur dari kesedihan atas kematian saudaranya, karena disekelilingnya banyak yang mengalami hal yang sama, seperti dalam bait syai’rnya,

ولولا كثرةُ الباكين حولي *** على إخوانهم؛ لقتلتُ نفسي 

Andai saja di dekatku tidak banyak yang menagis atas musibah yang menimpa saudara mereka, niscaya aku akan bunuh diri. (https://www.aldiwan.net/poem21102.html)

2.   Meyakini hikmah di balik setiap musibah. Rahasia Allah ‘azza wajalla terlalu besar untuk diketahui dan nalar kita terlalu sempit untuk memahaminya. Musibah layaknya obat, pahit rasanya dan lega setelahnya. Sudah menjadi sunatullah setelah kesusahan ada kemudahan, dan habis gelap terbitlah terang.

3.  Menambatkan hati hanya kepada Allah‘azza wajalla, karena Hanya Ia-lah yang bisa mendatangkan kebaikan dan menolak keburukan. Ketahuilah, rahmat Allah‘azza wajalla melebihi murka-Nya, dan cinta-Nya melebihi kecintaan seorang ibu terhadap anaknya.

4. Menyadari bahwa semua yang terjadi tidak pernah keluar dari rencana Allah‘azza wajalla, sehingga tidak terlarut dalam kesedihan dan terhanyut dalam angan dan lara nestapa. Sebagaimana pesan Rasulullah shalallahu ‘awalihi wasallam kepada Ibnu ‘Abbas radhiyallahu‘anhu )w.68 H):

مَا أَصَابَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُخْطِئَكَ وَأَنَّ مَا أَخْطَأَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُصِيبَكَ

Apa yang menimpamu (yang sudah ditakdirkan) maka tidak akan pernah meleset darimu dan apa yang belum menimpamu (yang belum ditakdirkan) maka tidak akan mengenaimu. (HR.
Ahmad, no. 21653)
 

5.   Menyadari hakikat dunia yang sesungguhnya. Dunia adalah fatamorgana, kesenangan semu yang
penuh tipu, maka janganlah terperdaya rayuannya. Maka barang siapa yang mengetahui sunatullah yang berjalan di muka bumi ini, jiwanya akan tenang hatinya akan lapang walaupun bencana menghempas layaknya gelombang. Semakin kuat terpaannya semakin kuat pula pegangannya terhadap tali Allah‘azza wajalla
,.

وَقَطَّعْنَاهُمْ فِي الْأَرْضِ أُمَمًا ۖ مِنْهُمُ الصَّالِحُونَ وَمِنْهُمْ دُونَ ذَٰلِكَ ۖ وَبَلَوْنَاهُمْ بِالْحَسَنَاتِ وَالسَّيِّئَاتِ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ 

“Dan Kami pecahkan mereka di dunia ini menjadi beberapa golongan; di antaranya ada orang-orang yang saleh dan ada yang tidak demikian. Dan Kami uji mereka dengan (nikmat) yang baik-baik dan (bencana) yang buruk-buruk, agar mereka kembali (kepada kebenaran).”[Al-A’raf 168]

Ibnu Jarir rahimahullah (w.310 H) menyatakan bahwa yang dimaksud dengan (الـحَسَنَاتُ) adalah kemudahan dalam kehidupan, dan dengan kesenangan dunia serta kelapangan rizki. Sedangkan (السَّيِّئَاتُ) adalah kesempitan dalam hidup, kesulitan, musibah, serta sedikitnya harta. (Tafsiir al-Thabari
(VI/131). cet.1 Darul A’lam-Jordan, th.1423 H.)

6.   Berperasangka baik kepada Allah‘azza wajalla dalam setiap keadaan. Nilai yang kita raih dari ujian yang diberikan Allah‘azza wajalla,, berbanding lurus dengan prasangka kita kepada-Nya. Sebagimana disebutkan dalam hadis kudsi dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu (w.59 H) Bahwa Nabi shalallahu ‘alaihi wasaalam bersabda, “Allah ‘azza wajalla berfirman:

أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي، وَأَنَا مَعهُ إِذَا ذَكَرَني 

Aku sesuai persangkaan hamba-Ku. Aku bersamanya ketika ia mengingat-Ku.

)HR. Bukhari, 7405 & Muslim, 2675).

7.   Menghiasi diri dengan kesabaran dan berlapang dada dengan apa yang Allah‘azza wajalla
gariskan. Ketahuilah, semakin berat ujiannya semakin besar pahalanya dan semakin dekat juga kabar gembira yang akan datang setelahnya.

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوْعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْاَمْوَالِ وَالْاَنْفُسِ وَالثَّمَرٰتِۗ وَبَشِّرِ الصّٰبِرِيْنَ 

Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (Al-Baqarah:155) 

8.   Berdo’a kepada yang Maha Kuasa. Seorang Mukmin sejatinya tidak boleh lelah dan bosan dalam
berdo’a karena itu adalah senjatanya yang paling ampuh. Kendati yang diharapkan dalam doanya belum terwujud, itu bukan berarti tidak terkabul, akan tetapi Allah‘azza wajalla akan memberikan yang paling baik dari yang dimintanya. Sebagimana hadis yang diriwayatkan oleh Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu’anhu (w.74 H) Rasulallah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَدْعُو بِدَعْوَةٍ لَيْسَ فِيهَا إِثْمٌ ، وَلاَ قَطِيعَةُ رَحِمٍ ، إِلاَّ أَعْطَاهُ اللَّهُ بِهَا إِحْدَى ثَلاَثٍ : إِمَّا أَنْ تُعَجَّلَ لَهُ دَعْوَتُهُ ، وَإِمَّا أَنْ يَدَّخِرَهَا لَهُ فِي الآخِرَةِ ، وَإِمَّا أَنْ يَصْرِفَ عَنْهُ مِنَ السُّوءِ مِثْلَهَا قَالُوا : إِذًا نُكْثِرُ ، قَالَ : اللَّهُ أَكْثَرُ. 

“Tidak ada seorang muslim pun yang berdoa dengan sebuah doa yang tidak terkandung di dalamnya dosa dan pemutusan silaturahmi, kecuali Allah akan memberikannya salah satu dari ketiga hal berikut: Allah akan mengabulkannya dengan segera, mengakhirkan untuknya di akhirat atau memalingkannya dari keburukan yang semisalnya. Para sahabat berkata, “Kalau begitu kami akan memperbanyak doa kami.” Beliau berkata, “Allah lebih banyak lagi.”

(HR. Ahmad, 17/213)

Ditulis Oleh : Ust. Abu Abdirrahman Anfalullah, Lc., M.Pd.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *