Tadabbur

Percik-Percik Faidah dari Kajian Awal Dzulhijjah

(Disarikan dari kajian rutin yang disampaikan Ust. Ade Hermansyah di Masjid Al-Ma’tuq pada 1 Dzulhijjah 1442 H; sub pembahasan Tafsir Surat An-Nisa Ayat 77)

MUKADDIMAH

(Mengingatkan Keutamaan Beribadah di Awal Dzulhijjah)

Dalam hadits shahih disebutkan bahwa beramal pada 10 hari pertama bulan Dzulhijjah ini lebih Allah cintai dari pada amalan beramal di hari-hari lainnya. Maka di awal Dzulhijjah seharusnya disambut dengan kesemangatan ibadah lebih dari pada  hari-hari lainnya.

Di antara amalan yang perlu diperhatikan seorang Muslim:

  1. Ibadah-ibadah fardhu, seperti shalat lima waktu secara berjamaah, dan ibadah lainnya
  2. Ibadah-ibadah sunnah; shalat rawatib, witir, shaum, dan amalan sunnah lainnya
  3. Memperbanyak tilawah Qur’an
  4. Memperbanyak Zikir dan Takbir

Zikir itu amalan yang paling mudah, bisa dilaksanakan kapan saja tanpa bersuci, Ibnu Umar dan Abu Hurairah bahkan biasa bertakbir di pasar pada hari-hari pertama bulan Dzulhijjah ini. Masya Allah, jika di pasar saja mereka berzikir apalagi di masjid. Sebaliknya sebagian kita di masjid pun kurang zikirnya, apalagi di tempat-tempat lain.

Takbir di awal Dzulhijjah itu ada 2 jenis:  (a) Takbir muthlaq (bebas), yang dibaca kapan saja sejak 1 s.d 10 Dzulhijjah; (b) Takbir muqoyyadh (terikat), dibaca setiap selesai shalat fardhu, sejak shubuh hari Arafah sampai Ashar akhir hari tasyrik (13 Dzulhijjah).

  1. Shaum Arafah pada 9 Dzulhijjah
  2. Mencari ilmu, yaitu ilmu yang mengantarkan kita mengenal Allah dan hak-hak-Nya, mengenal cara hidup yang sesuai dengan syariat-Nya. Juga ilmu yang mendorong kita menjauhi larangan-larangan-Nya. (Maka hadir di kajian pada awal Dzulhijjah ini memiliki nilai lebih di banding kajian-kajian pada hari-hari lainnya)

PERCIK-PERCIK FAIDAH DARI KAJIAN TAFSIR SURAT ANNISA AYAT 77  

Yang Menggebu Minta Perang Belum Tentu Benar-Benar Ingin berjihad

Saat kaum muslimin dianiaya di Mekah sebagian mereka meminta izin untuk melawan, namun saat itu jihad belum diiizinkan oleh Allah ‘Azza wa Jalla. Ketika sudah berada di Madinah barulah mereka diizinkan, namun anehnya sebagian mereka berat berjihad, bahkan mencari-cari alasan untuk menghindar. Kata mereka, perang itu menimbulkan pertumpahan darah, menjadikan anak- kehilangan ayah, atau takut para wanita menjadi janda. Allah pun menegur mereka melalui ayat 77 surat An-Nisa ini.

Perintah Shalat dan Zakat Yang Selalu Digandengkan

Shalat dan zakat selalu digandengkan di dalam Al-Quran agar manusia memperhatikan dua sisi ini: sisi hubungannya dengan Allah dan sisi hubungannya dengan sesama manusia. Shalat itu murni menjalin hubungan dengan Allah, sedangkan zakat di samping menjalin hubungan dengan Allah, sekaligus memberi manfaat kepada sesama makhluk.

Di antara tanda seseorang cinta kepada Allah, dia mencintai pula sesamanya. Semakin baik hubungannya dengan Allah, perhatiannya kepada sesama juga semakin besar. Maka sangat erat kaitan antara shalat dan zakat.

Jangan Rampok Orang Miskin

Adalah hikmah Allah manusia ini ada yang kaya dan ada yang miskin; Kehidupan tidak akan berjalan dengan baik bila semuanya kaya atau semuanya miskin. Namun Islam menuntut orang kaya agar membantu mereka yang miskin. Bantuan itu bisa diberikan kapan saja tanpa harus menunggu tercapainya nisab zakat.

Orang yang menunggu hartanya mencapai nisab dulu untuk membantu sesama tiada lain manusia pelit. Orang yang memiliki harta yang lebih dari nisab, namun dia hanya mengeluarkan sesuai kadar zakatnya saja, adalah manusia sangat pelit. Sedangkan orang yang hartanya sudah mencapai nisab namun tidak mengeluarkan haknya, tidak lain adalah perampok orang miskin.

Memberi Maaf Tanpa Diminta

Kaum Muslimin belum diizinkan perang semasa di Mekah karena : 1) jumlah mereka masih sedikit, 2) mereka berada di tanah haram (yang notabene dilarang berperang).

Mereka baru diizinkan berperang setelah berhijrah ke Madinah, ketika sudah memiliki negara dan pasukan yang kuat dan banyak.

Mereka pun dilatih untuk bersabar atas segala penderitaan, sebagaimana yang menimpa keluarga sahabat Yâsir. Nabi mengatakan kepada mereka  “Shabran shabran âla Yâsir, fa inna mau’idakum al-jannah [bersabarkan wahai keluarga Yasir, tempat yang dijanjikan untuk kalian adalah surga!]. ”

Mereka juga diajari akhlak pemaaf, padahal kaum musyrikin tak meminta maaf mereka tentunya. Bagaimana lagi bila para pengganggu itu meminta maaf?  Maaf kaum Muslimin lebih terbuka luas lagi. 

Kematian Tidak Perlu Ditakuti

Di antara alasan orang enggan berjihad adalah takut dengan kematian. Padahal Khalid bin Walid hidupnya terus diisi dengan peperangan, hingga suatu kali ia menangis menyadari dirinya jarang membuka mushaf gara-gara terlalu sibuk berjihad (Kita yang jarang membuka mushaf, sebabnya karena apa ya?). Meski banyak berperang, kematian khalid ternyata tidak di medan perang, beliau justru wafat di atas kasur.

Penyebab kematian itu banyak, ada yang mati karena sakit, kecelakaan, wabah (baik yang memang terjangkiti wabah atau yang mati karena terlalu ketakutan oleh wabah), dan sebab-sebab kematian lainnya banyak lagi. Yang paling penting bagi kita adalah menjaga ketaqwaan selama masih hidup di dunia ini. Maka bagaimana pun cara kematian kita, hidup di akhirat pasti lebih baik bagi orang yang bertakwa. “Wal âkhiratu khairun liman ittaqâ.”

Jangan Remehkan Kebaikan Sekecil Apapun

Allah tidak akan menzalimi hamba-Nya sedikitpun. Bila mereka berbuat baik akan memperoleh pahalanya di akhirat, dan bila berbuat buruk akan mendapat siksanya pula di akhirat. Sebahagia-bahagianya orang adalah mereka yang mendapat kebahagiaan di akhirat meskipun secara duniawi sengsara. Dan semalang-malangnya orang adalah mereka yang celaka di akhirat meskipun di dunia bergelimang kemewahan. Lebih malang lagi orang yang sudah sengsara di dunia, sengsara pula di akhirat.

Maka kumpulkan amal kebaikan di dunia ini sebanyak-banyaknya. Jangan remehkan dia sekecil apapun, dan jaga selalu keikhlasan. Kata Imam Ibnu Mubarak: “Banyak amal kecil menjadi agung karena niat yang ikhlas; dan banyak amalan besar menjadi remeh karena niat yang salah.”

Wallahu a’lam bi al-shawab

by abhaitsambuldan/almatuq.sch.id

@Gunungjaya, 1 Dzulhijjah 1442

Delapan Kata bagi Imam Syafi'i

Imam asy-Syafi’i –rahimahullah- pernah ditanya tentang arti delapan kata berikut: wajib, lebih wajib, menakjubkan, lebih menakjubkan, sulit, lebih sulit, dekat dan lebih dekat.

Lalu beliau menjawabnya dalam beberapa bait syair berikut:

مِنْ وَاجِبِ النَّاسِ أَنْ يَتُوْبُـوْا                  لَكِنَّ تَـرْكَ الذُّنُـوْبِ أَوْجَـبُ

وَ الدَّهْرُ فِي صَرْفِهِ عَجِيْـبٌ                    وَ غَفْلَـةُ النَّاسِ عَنْـهُ أَعْجَـبُ

وَالصَّبْرُ فِي النَّائِبَاتِ صَعْبٌ                   لَكِنَّ فَوَاتَ الثَّـوَابِ أَصْـعَبُ

وَكُلُّ مَا تَرْتَجِــيْ قَرِيْـبٌ                       وَالْمَوْتُ مِنْ دُوْنِ ذَلِكَ أَقْـرَب

Bertaubat bagi manusia adalah perkara wajib; Namun meninggalkan segala dosa itu lebih wajib

Perubahan pada masa adalah suatu yang menakjubkan; Namun lalainya manusia dari semua itu lebih menakjubkan

Bersabar tatkala musibah datang adalah perkara sulit (bagi hati); Namun berlalunya pahala begitu saja lebih sulit (bagi diri)

Segala sesuatu yang engkau harapkan adalah dekat; Namun datangnya kematian itu adalah lebih dekat

Artikel: http://www.majalahislami.com

 

BAGAIMANA MENGAMBIL MANFAAT DARI AL-QUR'AN

Bila anda ingin mengambil manfaat dari  Al-Qur’an, konsentrasikanlah hati anda ketika membaca dan mendengarkannya, pusatkanlah pendengaran dan hadirkanlah diri anda seperti hadirnya orang yang sedang diajak bicara oleh Allah Ta’ala dengan Al-Qur’an itu. Karena sesungguhnya Al-Qur’an itu perkataan Allah yang ditujukan kepada anda melalui lisan Rasul-Nya. Allah Ta’ala berfirman:

[إِنَّ فِي ذَلِكَ لَذِكْرَى لِمَنْ كَانَ لَهُ قَلْبٌ أَوْ أَلْقَى السَّمْعَ وَهُوَ شَهِيدٌ” [ق : 37

“Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai qalbu atau yang menggunakan pendengarannya, sedang dia menyaksikannya.” …