Aqidah

GENERASI LANGGAS ATAU GENERASI MUWAHHID?

Istilah langgas belum begitu akrab di telinga kita dibanding dengan istilah milenial, padahal kata langgas sudah menjadi terminologi baku dan telah dikodifikasi dalam Kamus Bahasa Indonesia, tidak seperti milenial. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia langgas artinya tidak terikat kepada sesuatu atau kepada seseorang; bebas. Bisa dikatakan, yang dimaksud Generasi Langgas (Milenial) adalah generasi yang menginginkan kebebasan.

Transisi demografi telah melahirkan generasi-generasi yang berbeda-beda karakteristiknya. Pada tahun 1946-1965 generasinya dikenal dengan sebutan Baby Boomers. Secara literal baby boom berarti ledakan bayi, dinamakan demikian karena pasca perang dunia ke-2 angka kesuburan manusia dan kelahiran bayi sangat tinggi, hingga akhirnya pada tahun 1964 pil pengontrol kehamilan pun diperkenalkan di dunia. Di Indonesia, pil ini disebut dengan pil KB (keluarga Berencana) dengan jargon yang sangat populer “ Dua Anak Lebih Baik”.

Dinamika kultur yang terjadi di tahun 60-an menjadikan Generasi Baby Boomers akrab dengan kultur hippies, sebuah tatanan kebudayaan baru yang urakan; berambut godrong, dandanan eksentrik, pesta narkoba, dansa telanjang dan seks bebas. Virus hippies pun menular sampai ke kota-kota besar di tanah air; Jakarta, Bandung, dan kota-kota lainnya. Di Bandung kala itu banyak anak-anak sekolah ikut-ikutan melakukan seks bebas, namun ujung-ujungnya menjadi pelacur-pelacur tanggung, sampai dikenal dengan sebutan gongli, singkatan dari bagong lieur (bahasa Sunda: babi hutan yang pening).

Pada tahun 1966-1980 tingkat kelahiran bayi jauh lebih rendah jika dibandingan dengan masa sebelumnya. Oleh karenanya, generasi pada masa ini disebut dengan Baby Busters, kebalikan dari Baby Boomers. Kemudian Baby Busters popular dengan Generasi-X, sebutan yang diambil dari novel berjudul “Generation X: Tales for An Accelerated Culture” karya Douglas Coupland asal Kanada.

Dinamika kultur yang popular di Generasi X adalah kultur yuppie (young urban professional) atau eksekutif muda. Para yuppies cenderung individualis, mereka memiliki orientasi yang kuat dalam menaiki tangga karier mereka di usia muda, akibatnya, yuppie identik dengan rumah mewah, mobil wah, dan pasangan yang hah hah.

Sedangkan generasi yang lahir dari tahun 1981 sampai sekarang mereka menyebutnya dengan Generasi Milenial (generasi yang sempat melewati millennium kedua). Ada juga yang membaginya menjadi tiga fase, dari 1981-1995 disebut dengan Generasi-Y; generasi berkarakteristik optimis, idealis, individualis, dan menyukai lingkungan yang fleksibel.

Dari tahun 1996-2010 disebut dengan generasi-Z; generasi yang lahir saat teknologi sedang berkembang pesat, cenderung menginginkan segala sesuatu yang serba instan, males ribet dengan aturan, kurang ambisi untuk bisa sukses, dan sangat cepat beradaptasi dengan teknologi.

Dan dari tahun 2010 sampai sekarang disebut dengan Generasi A (Alpha). Menurut McCrindle, Generasi Alfa (anak-anak dari Generasi Milenial) akan menjadi generasi paling banyak di antara yang pernah ada. Sekitar 2,5 juta Generasi Alfa lahir setiap minggu. Membuat jumlahnya akan bengkak menjadi sekitar 2 miliar pada 2025. Generasi Alfa digadang akan menajdi generasi paling berpengaruh dalam kehidupan manusia akan tetapi karakteristiknya belum bisa terditeksi karena usia mereka masih sangat dini pada saat ini. (Disarikan dari beberapa situs internet)

Dari penjelasan di atas kita bisa menyimpulkan, bahwa semua generasi yang disebutkan itu pada umumnya menginginkan kebebasan dan kebahagiaan, mereka berusaha untuk meraihnya dengan caranya masing-masing sesuai dengan zaman yang mereka hidup di dalamnya.

Agama islam adalah agama yang menjunjung tinggi kebebasan, islam memberikan kebebasan hidup, kebebasan beramal, kebebasan bekerja, kebebasan mencintai dan kebebasan-kebebasan lainnya. Namun, yang dimaksud kebebasan dalam islam adalah kebebasan yang rasional dan bisa dipertanggungjawabkan dunia dan akhirat, bukan kebebasan yang kebablasan. Dari Sahl bin Sa’d, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

Jibril mendatangiku lalu berkata: “Wahai Muhammad! Hiduplah sesukamu, karena sesungguhnya kamu akan mati, cintailah siapa yang kamu suka, karena sesungguhnya engkau akan berpisah dengannya dan berbuatlah sesukamu, karena sesungguhnya engkau akan diberi balasan karenanya.” Kemudian dia berkata:” Wahai Muhammad! Kemulian seorang mukmin adalah berdirinya dia pada malam hari (untuk shalat malam), dan keperkasaannya adalah ketidakbutuhannya terhadap manusia.” (HR. al-Thabarani dalam al-Mu’jam al-Ausath no 4278. Hadits ini dinyatakan hasan oleh Syaikh al-Albani dalam Silsilah al-Ahadits al-Shahihah 2/483)

Kalau yang dimaksud dengan generasi langgas adalah generasi bebas yang tidak terikat kepada sesuatu atau kepada seseorang, maka ini telah sesuai dengan konsep tauhid di dalam islam. Karena seseorang tidak boleh mengikatkan dirinya, menghambakan dirinya atau menggantungkan dirinya kepada sesuatu atau siapapun kecuali hanya kepada Allah. Dengan kata lain generasi lanngas versi ini bisa juga disebut dengan Generasi Muwahhid.

Tauhid membebaskan manusia dari penghambaan diri kepada makhluk. Hanya Generasi Muwahhidlah yang benar-benar merasakan kemerdekaan atau kebebasan yang seutuhnya, karena mereka sudah bisa berlepas diri dari semua belenggu penghambaan, di hatinya hanya ada Allah Ta’ala; sumber kebaikan, satu-satunya pencipta, pemberi rezki dan pengatur alam semesta ini.

Sahabat mulia Rib’iy bin ‘Amir ketika ditanya oleh Rustum panglima perang Persia, apakah yang kalian bawa?”. Maka beliau menjawab: “Allah yang mengutus kami untuk membebaskan siapa yang dikehendaki-Nya dari penghambaan diri kepada makhluk kepada penghambaan diri kepada Rab Makhluk, dan dari kesempitan dunia kepada kelapangannya, serta dari kezhaliman aturan manusia kepada keadilan Islam.” (Al-Bidayah wa al-Nihayah (7/39).

Jadi, kebebasan dan kebahagian hanya akan diraih dengan mentauhidkan Allah, sementara kebebasan dengan memuja hawa nafsu serta mengabaikan norma-norma agama dan moralitas, itu hanyalah kebebasan semu yang hanya akan mendatangkan kesempitan dalam hidup dan menguatkan belenggu-belenggu. Syaikhul islam pernah mengatakan, “Orang yang dipenjara adalah orang yang terpenjara hatinya dari Allah Ta’ala, dan orang yang tertawan adalah orang yang dibelenggu oleh hawa nafsunya.” (Al-Wabilu al-Shayyib min al-kalimah al-Thayyib”: hal. 67).

Para ulama mengilustrasikan kebutuhan manusia terhadap petunjuk Allah seperti kebutuhan ikan terhadap air (Al-Wabilu al-Shayyib” : hal. 63). Jika demikian adanya, maka tidak bisa dikatakan merdeka ketika ikan jauh dari air, yang ada hanya kematian bukan kebebasan. Begitu pula ketika manusia jauh dari Allah ta’ala, alih-alih kebebasan yang ia dapat, yang ada hanya kehinaan karena ia telah menjadi budak dunia dan hawa nafsunya.

Penulis Ust. Anfalullah, Lc., M.Pd. hafidhahullah

Ruwatan; Rugi Dunia dan Akhirat

Ruwatan adalah tradisi untuk menolak bala. Kadang pun dilakukan setelah bala itu terjadi agar tidak terulang lagi. Di desa kami, pernah ada musibah seseorang yang gantung diri karena kesusahan ekonomi. Lalu dibuatlah acara ruwatan yang diadakan untuk satu dusun. Di dalamnya berisi beberapa ritual yang dipimpin oleh seorang dalang. Ada ritual baca do’a, sedekahan, tanam kelapa di pojok desa, yang semua ritual tersebut kalaulah tidak termasuk amalan tanpa tuntunan (alias: bid’ah), maka termasuk dalam perbuatan yang dimurkai Allah, yaitu syirik.

Belakangan yang ditemukan di negeri kita, ruwatan dilakukan oleh kalangan intelektual. Mobil “arep” drive test, maka diruwat dulu, disiram bunga kembang biar ampuh tak kena bala di tengah pengujian. Tak tahunya, mobilnya gagal emisi, bahkan diceritakan pada test yang lain ada yang kena musibah sampai tabrak tebing.

Kami bukan bermaksud mengomentari kegagalan tersebut, karena mau diruwat atau pun tidak, tetap saja bisa gagal jika Allah menakdirkan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَتَعْلَمَ أَنَّ مَا أَصَابَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُخْطِئَكَ وَأَنَّ مَا أَخْطَأَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُصِيبَكَ

Patut engkau tahu bahwa apa yang ditakdirkan akan menimpamu tidak akan luput darimu dan apa yang ditakdirkan luput darimu tidak akan menimpamu.” (HR. Abu Daud no. 4699 dan Ahmad 5: 185, shahih kata Syaikh Al Albani).

Namun yang dipersoalkan adalah ritual yang dilakukan sebelumnya. Kenapa mesti ritual seperti ini yang diadakan?

Seorang muslim diajarkan untuk mengadukan segala hal dan kesusahannya pada Allah, dengan meminta dan berdo’a pada-Nya. Jika ada kesulitan ataupun ingin menolak bala’, maka kita diperintahkan meminta pada Allah. Sebagaimana kita dapat renungkan dalam ayat,

وَمَا بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ ثُمَّ إِذَا مَسَّكُمُ الضُّرُّ فَإِلَيْهِ تَجْأَرُونَ (53) ثُمَّ إِذَا كَشَفَ الضُّرَّ عَنْكُمْ إِذَا فَرِيقٌ مِنْكُمْ بِرَبِّهِمْ يُشْرِكُونَ (54)

Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya), dan bila kamu ditimpa oleh kemudharatan, maka hanya kepada-Nya-lah kamu meminta pertolongan. Kemudian apabila Dia telah menghilangkan kemudharatan itu dari pada kamu, tiba-tiba sebahagian dari pada kamu mempersekutukan Allah dengan (yang lain)” (QS. An Nahl: 53-54). Itulah keadaan manusia saat ini, ada sebagian yang berdo’a hanya pada Allah. Namun sebagian kalangan, ada yang mengadukan kesusahannya kepada selain Allah, kepada jin, mayit dalam kubur, dll.

Yang dilakukan dalam acara ruwatan, bukanlah minta pada Allah. Namun jin dijadikan tempat meminta pertolongan. Jin atau setan itu dipanggil oleh dukun sehingga saat uji emisi, ada yang membantu. Padahal meminta tolong pada jin untuk menolak bala telah disebutkan dalam Al Qur’an Al Karim,

وَأَنَّهُ كَانَ رِجَالٌ مِنَ الْإِنْسِ يَعُوذُونَ بِرِجَالٍ مِنَ الْجِنِّ فَزَادُوهُمْ رَهَقًا

Dan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan” (QS. Al Jin: 6). Dari Al ‘Aufi, dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata, “Setan malah menambah dosa pada manusia”.

Tak tahunya, jin pun tidak bisa menolak kehendak Allah. Kalau Allah takdirkan gagal, yah gagal walau dengan bantuan 1000 jin sekali pun.

Kalau ritual ruwatan berisi do’a tulus pada Allah, mengapa harus pakai kembang bunga saat ruwat dari mana tuntunannya ataukah itu wasiat dari jin? Mengapa harus datangkan dukun, kenapa tidak meminta atau berdo’a pada Allah langsung? Dukun juga biasanya kagak shalat (itu yang umum ditemukan), mana mungkin ia meminta pada Allah dengan tulus?

Kenapa kita tidak cukup berdo’a pada Allah saja? Di antara do’a yang bisa kita panjatkan,

اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ وَتَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ وَفُجَاءَةِ نِقْمَتِكَ وَجَمِيعِ سَخَطِكَ

Alloohumma innii a’uudzu bika min zawaali ni’matik, wa tahawwuli ‘aafiyatik, wa fujaa’ati niqmatik, wa jamii’i sakhothik” [Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari hilangnya kenikmatan yang telah Engkau berikan, dari berubahnya kesehatan yang telah Engkau anugerahkan, dari siksa-Mu yang datang secara tiba-tiba, dan dari segala kemurkaan-Mu] (HR. Muslim no. 2739). Do’a ini berisi permintaan, di antaranya agar nikmat itu tetap ada.

Begitu juga yang diajarkan ketika kita melewati tempat angker yang sebelumnya belum pernah dilewati dan ditakutkan kena celaka, kita bisa juga membaca do’a sebagaimana disebutkan dalam hadits berikut,

مَنْ نَزَلَ مَنْزِلاً ثُمَّ قَالَ أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّاتِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ. لَمْ يَضُرُّهُ شَىْءٌ حَتَّى يَرْتَحِلَ مِنْ مَنْزِلِهِ ذَلِكَ

Barangsiapa yang singgah di suatu tempat lantas ia mengucapkan “a’udzu bi kalimaatillahit taammaati min syarri maa kholaq” (Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari kejahatan makhluk yang diciptakanNya)”, maka tidak ada sama sekali yang dapat memudhorotkannya sampai ia berpindah dari tempat tersebut” (HR. Muslim no. 2708).

Jika ada yang mengomentari, ruwatan kan hanya budaya?

Iya itu budaya, betul sekali. Namun itu budaya syirik. Dahulu orang musyrik di masa Nabi juga beralasan karena ini adalah budaya. Akhirnya, mereka terus melestarikan budaya kegelapan tersebut. Yang dikatakan oleh orang-orang musyrik dahulu,

إِنَّا وَجَدْنَا آَبَاءَنَا عَلَى أُمَّةٍ وَإِنَّا عَلَى آَثَارِهِمْ مُقْتَدُونَ

Sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak kami menganut suatu agama dan sesungguhnya kami adalah pengikut jejak-jejak mereka” (QS. Az Zukhruf: 22). Lihat mereka pun beralasan karena yang mereka lakukan itu budaya dan tradisi. Tidak ada hujjah dalil atau wahyu yang mereka sampaikan kecuali alasan itu.

Sampai-sampai gara-gara ingin kokoh dengan tradisi, maka paman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun mati dalam keadaan kafir karena digoda oleh teman-temannya untuk tetap terus mempertahankan budaya. Coba renungkan kisah Abu Tholib saat-saat ia mau meninggal dunia.

Kalau mau menjadi muslim, jadilah muslim yang tulen. Jangan separuh-paruh. Allah menyeru kita orang beriman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ

Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.” (QS. Al Baqarah: 208). Kata Mujahid, maksud ‘masuklah dalam Islam secara keseluruhan‘: “Lakukanlah seluruh amalan dan berbagai bentuk kebaikan.” Dan semulia-muliannya amalan adalah memurnikan ibadah hanya untuk Allah (mentauhidkan Allah) termasuk dalam do’a.

Point yang mesti diperhatikan bahwa tidak semua tradisi ditolak oleh Islam, yang bertentangan saja dengan akidah dan ajaran Rasul, itu yang tidak kita lakukan.

Sebagaimana kisah yang kami kemukakan di awal, setelah desa kami diruwat biar tidak ada lagi yang bunuh diri, ternyata berselang dua tahun kemudian, ditemukan kasus yang sama, bahkan kejadiannya di tetangga dekat rumah yang sebelumnya menjadi korban bunuh diri. Intinya, ruwatan di samping tidak bisa menolak mudhorot (bahaya), kerugian lainnya akan dinantikan di akhirat kelak berupa siksaan yang pedih bagi pelaku kesyirikan.

إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ

Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya.” (QS. An Nisa’: 48).

Ruwatan mengundang kegagalan dunia, apalagi akhirat. Wallahul musta’an.

Semoga Allah memberi hidayah pada kita untuk terus bertauhid dan menjauhkan kita dari segala macam perbuatan syirik.

@ Sakan 27 Jami’ah Malik Su’ud, Riyadh-KSA, 24 Shafar 1434 H

www.rumaysho.com

Bolehkah Seorang Muslim Mengucapkan Selamat Natal?

Sudah sering kita mendengar ucapan semacam ini menjelang perayaan Natal yang dilaksanakan oleh orang Nashrani. Mengenai dibolehkannya mengucapkan selamat natal ataukah tidak kepada orang Nashrani, sebagian kaum muslimin masih kabur mengenai hal ini. Sebagian di antara mereka dikaburkan oleh pemikiran sebagian orang yang dikatakan pintar (baca: cendekiawan), sehingga mereka menganggap bahwa mengucapkan selamat natal kepada orang Nashrani tidaklah mengapa (alias ‘boleh-boleh saja’). Bahkan sebagian orang pintar tadi mengatakan bahwa hal ini diperintahkan atau dianjurkan.

Namun untuk mengetahui manakah yang benar, tentu saja kita harus merujuk pada Al Qur’an dan As Sunnah, juga pada ulama yang mumpuni, yang betul-betul memahami agama ini. Ajaran islam ini janganlah kita ambil dari sembarang orang, walaupun mungkin orang-orang yang diambil ilmunya tersebut dikatakan sebagai cendekiawan. Namun sayang seribu sayang, sumber orang-orang semacam ini kebanyakan merujuk pada perkataan orientalis barat yang ingin menghancurkan agama ini. Mereka berusaha mengutak-atik dalil atau perkataan para ulama yang sesuai dengan hawa nafsunya. Mereka bukan karena ingin mencari kebenaran dari Allah dan Rasul-Nya, namun sekedar mengikuti hawa nafsu. Jika sesuai dengan pikiran mereka yang sudah terkotori dengan paham orientalis, barulah mereka ambil. Namun jika tidak bersesuaian dengan hawa nafsu mereka, mereka akan tolak mentah-mentah. Ya Allah, tunjukilah kami kepada kebenaran dari berbagai jalan yang diperselisihkan –dengan izin-Mu-

Semoga dengan berbagai fatwa dari ulama yang mumpuni, kita mendapat titik terang mengenai permasalahan ini.

Fatwa Pertama: Mengucapkan Selamat Natal dan Merayakan Natal Bersama

Berikut adalah fatwa ulama besar Saudi Arabia, Syaikh Muhammad bin Sholeh Al Utsaimin rahimahullah, dari kumpulan risalah (tulisan) dan fatwa beliau (Majmu’ Fatawa wa Rosail Ibnu ‘Utsaimin), 3/28-29, no. 404.

Beliau rahimahullah pernah ditanya,

“Apa hukum mengucapkan selamat natal (Merry Christmas) pada orang kafir (Nashrani) dan bagaimana membalas ucapan mereka? Bolehkah kami menghadiri acara perayaan mereka (perayaan Natal)? Apakah seseorang berdosa jika dia melakukan hal-hal yang dimaksudkan tadi, tanpa maksud apa-apa? Orang tersebut melakukannya karena ingin bersikap ramah, karena malu, karena kondisi tertekan, atau karena berbagai alasan lainnya. Bolehkah kita tasyabbuh (menyerupai) mereka dalam perayaan ini?”

Beliau rahimahullah menjawab:

Memberi ucapan Selamat Natal atau mengucapkan selamat dalam hari raya mereka (dalam agama) yang lainnya pada orang kafir adalah sesuatu yang diharamkan berdasarkan kesepakatan para ulama (baca: ijma’ kaum muslimin), sebagaimana hal ini dikemukakan oleh Ibnul Qoyyim rahimahullah dalam kitabnya Ahkamu Ahlidz Dzimmah. Beliau rahimahullah mengatakan, “Adapun memberi ucapan selamat pada syi’ar-syi’ar kekufuran yang khusus bagi orang-orang kafir (seperti mengucapkan selamat natal, pen) adalah sesuatu yang diharamkan berdasarkan ijma’ (kesepakatan) kaum muslimin. Contohnya adalah memberi ucapan selamat pada hari raya dan puasa mereka seperti mengatakan, ‘Semoga hari ini adalah hari yang berkah bagimu’, atau dengan ucapan selamat pada hari besar mereka dan semacamnya. Kalau memang orang yang mengucapkan hal ini bisa selamat dari kekafiran, namun dia tidak akan lolos dari perkara yang diharamkan. Ucapan selamat hari raya seperti ini pada mereka sama saja dengan kita mengucapkan selamat atas sujud yang mereka lakukan pada salib, bahkan perbuatan seperti ini lebih besar dosanya di sisi Allah. Ucapan selamat semacam ini lebih dibenci oleh Allah dibanding seseorang memberi ucapan selamat pada orang yang minum minuman keras, membunuh jiwa, berzina, atau ucapan selamat pada maksiat lainnya. Banyak orang yang kurang paham agama terjatuh dalam hal tersebut. Orang-orang semacam ini tidak mengetahui kejelekan dari amalan yang mereka perbuat. Oleh karena itu, barangsiapa memberi ucapan selamat pada seseorang yang berbuat maksiat, bid’ah atau kekufuran, maka dia pantas mendapatkan kebencian dan murka Allah Ta’ala.” –Demikian perkataan Ibnul Qoyyim rahimahullah-

Dari penjelasan di atas, maka dapat kita tangkap bahwa mengucapkan selamat pada hari raya orang kafir adalah sesuatu yang diharamkan. Alasannya, ketika mengucapkan seperti ini berarti seseorang itu setuju dan ridho dengan syiar kekufuran yang mereka perbuat. Meskipun mungkin seseorang tidak ridho dengan kekufuran itu sendiri, namun tetap tidak diperbolehkan bagi seorang muslim untuk ridho terhadap syiar kekufuran atau memberi ucapan selamat pada syiar kekafiran lainnya karena Allah Ta’ala sendiri tidaklah meridhoi hal tersebut. Allah Ta’ala berfirman,

إِنْ تَكْفُرُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنْكُمْ وَلَا يَرْضَى لِعِبَادِهِ الْكُفْرَ وَإِنْ تَشْكُرُوا يَرْضَهُ لَكُمْ

“Jika kamu kafir maka sesungguhnya Allah tidak memerlukan (iman)mu dan Dia tidak meridhai kekafiran bagi hamba-Nya; dan jika kamu bersyukur, niscaya Dia meridhai bagimu kesyukuranmu itu.” (Qs. Az Zumar [39]: 7)

Allah Ta’ala juga berfirman,

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا

“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni’mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.” (Qs. Al Maidah [5]: 3)

Apakah Perlu Membalas Ucapan Selamat Natal?

Memberi ucapan selamat semacam ini pada mereka adalah sesuatu yang diharamkan, baik mereka adalah rekan bisnis ataukah tidak. Jika mereka mengucapkan selamat hari raya mereka pada kita, maka tidak perlu kita jawab karena itu bukanlah hari raya kita dan hari raya mereka sama sekali tidak diridhoi oleh Allah Ta’ala. Hari raya tersebut boleh jadi hari raya yang dibuat-buat oleh mereka (baca : bid’ah). Atau mungkin juga hari raya tersebut disyariatkan, namun setelah Islam datang, ajaran mereka dihapus dengan ajaran Islam yang dibawa oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan ajaran Islam ini adalah ajaran untuk seluruh makhluk.

Mengenai agama Islam yang mulia ini, Allah Ta’ala sendiri berfirman,

وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآَخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ

“Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu)daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” (Qs. Ali Imron [3]: 85)

Bagaimana Jika Menghadiri Perayaan Natal?

Adapun seorang muslim memenuhi undangan perayaan hari raya mereka, maka ini diharamkan. Karena perbuatan semacam ini tentu saja lebih parah daripada cuma sekedar memberi ucapan selamat terhadap hari raya mereka. Menghadiri perayaan mereka juga bisa jadi menunjukkan bahwa kita ikut berserikat dalam mengadakan perayaan tersebut.

Bagaimana Hukum Menyerupai Orang Nashrani dalam Merayakan Natal?

Begitu pula diharamkan bagi kaum muslimin menyerupai orang kafir dengan mengadakan pesta natal, atau saling tukar kado (hadiah), atau membagi-bagikan permen atau makanan (yang disimbolkan dengan ‘santa clause’ yang berseragam merah-putih, lalu membagi-bagikan hadiah, pen) atau sengaja meliburkan kerja (karena bertepatan dengan hari natal). Alasannya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud. Syaikhul Islam dalam Iqtidho’ mengatakan bahwa sanad hadits ini jayid/bagus)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam kitabnya Iqtidho’ Ash Shirothil Mustaqim mengatakan, “Menyerupai orang kafir dalam sebagian hari raya mereka bisa menyebabkan hati mereka merasa senang atas kebatilan yang mereka lakukan. Bisa jadi hal itu akan mendatangkan keuntungan pada mereka karena ini berarti memberi kesempatan pada mereka untuk menghinakan kaum muslimin.” -Demikian perkataan Syaikhul Islam-

Barangsiapa yang melakukan sebagian dari hal ini maka dia berdosa, baik dia melakukannya karena alasan ingin ramah dengan mereka, atau supaya ingin mengikat persahabatan, atau karena malu atau sebab lainnya. Perbuatan seperti ini termasuk cari muka (menjilat), namun agama Allah yang jadi korban. Ini juga akan menyebabkan hati orang kafir semakin kuat dan mereka akan semakin bangga dengan agama mereka.

Allah-lah tempat kita meminta. Semoga Allah memuliakan kaum muslimin dengan agama mereka. Semoga Allah memberikan keistiqomahan pada kita dalam agama ini. Semoga Allah menolong kaum muslimin atas musuh-musuh mereka. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Kuat lagi Maha Mulia.

Fatwa Kedua: Berkunjung Ke Tempat Orang Nashrani untuk Mengucapkan Selamat Natal pada Mereka

Masih dari fatwa Syaikh Muhammad bin Sholeh Al Utsaimin rahimahullah dari Majmu’ Fatawa wa Rosail Ibnu ‘Utsaimin, 3/29-30, no. 405.

Syaikh rahimahullah ditanya: Apakah diperbolehkan pergi ke tempat pastur (pendeta), lalu kita mengucapkan selamat hari raya dengan tujuan untuk menjaga hubungan atau melakukan kunjungan?

Beliau rahimahullah menjawab:

Tidak diperbolehkan seorang muslim pergi ke tempat seorang pun dari orang-orang kafir, lalu kedatangannya ke sana ingin mengucapkan selamat hari raya, walaupun itu dilakukan dengan tujuan agar terjalin hubungan atau sekedar memberi selamat (salam) padanya. Karena terdapat hadits dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

لاَ تَبْدَءُوا الْيَهُودَ وَلاَ النَّصَارَى بِالسَّلاَمِ

“Janganlah kalian mendahului Yahudi dan Nashara dalam salam (ucapan selamat).” (HR. Muslim no. 2167)

Adapun dulu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berkunjung ke tempat orang Yahudi yang sedang sakit ketika itu, ini dilakukan karena Yahudi tersebut dulu ketika kecil pernah menjadi pembantu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tatkala Yahudi tersebut sakit, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjenguknya dengan maksud untuk menawarkannya masuk Islam. Akhirnya, Yahudi tersebut pun masuk Islam. Bagaimana mungkin perbuatan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mengunjungi seorang Yahudi untuk mengajaknya masuk Islam, kita samakan dengan orang yang bertandang ke non muslim untuk menyampaikan selamat hari raya untuk menjaga hubungan?! Tidaklah mungkin kita kiaskan seperti ini kecuali hal ini dilakukan oleh orang yang jahil dan pengikut hawa nafsu.

Fatwa Ketiga: Merayakan Natal Bersama

Fatwa berikut adalah fatwa Al Lajnah Ad Daimah Lil Buhuts Al ‘Ilmiyyah wal Ifta’ (Komisi Tetap Urusan Riset dan Fatwa Kerajaan Arab Saudi) no. 8848.

Pertanyaan:
Apakah seorang muslim diperbolehkan bekerjasama dengan orang-orang Nashrani dalam perayaan Natal yang biasa dilaksanakan pada akhir bulan Desember? Di sekitar kami ada sebagian orang yang menyandarkan pada orang-orang yang dianggap berilmu bahwa mereka duduk di majelis orang Nashrani dalam perayaan mereka. Mereka mengatakan bahwa hal ini boleh-boleh saja. Apakah perkataan mereka semacam ini benar? Apakah ada dalil syar’i yang membolehkan hal ini?

Jawaban:
Tidak boleh bagi kita bekerjasama dengan orang-orang Nashrani dalam melaksanakan hari raya mereka, walaupun ada sebagian orang yang dikatakan berilmu melakukan semacam ini. Hal ini diharamkan karena dapat membuat mereka semakin bangga dengan jumlah mereka yang banyak. Di samping itu pula, hal ini termasuk bentuk tolong menolong dalam berbuat dosa. Padahal Allah berfirman,

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ

“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran.” (Qs. Al Maidah [5]: 2)

Semoga Allah memberi taufik pada kita. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, pengikut dan sahabatnya.

Ketua Al Lajnah Ad Da’imah: Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz

Saatnya Menarik Kesimpulan

Dari penjelasan di atas, kita dapat menarik beberapa kesimpulan:

Pertama, Kita –kaum muslimin- diharamkan menghadiri perayaan orang kafir termasuk di dalamnya adalah perayaan Natal. Bahkan mengenai hal ini telah dinyatakan haram oleh Majelis Ulama Indonesia sebagaimana dapat dilihat dalam fatwa MUI yang dikeluarkan pada tanggal 7 Maret 1981.

Kedua, Kaum muslimin juga diharamkan mengucapkan ‘selamat natal’ kepada orang Nashrani dan ini berdasarkan ijma’ (kesepakatan) kaum muslimin sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnul Qoyyim. Jadi, cukup ijma’ kaum muslimin ini sebagai dalil terlarangnya hal ini. Yang menyelisihi ijma’ ini akan mendapat ancaman yang keras sebagaimana firman Allah Ta’ala,

وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَاءَتْ مَصِيرًا

“Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mu’min, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (Qs. An Nisa’ [4]: 115). Jalan orang-orang mukmin inilah ijma’ (kesepakatan) mereka.

Oleh karena itu, yang mengatakan bahwa Al Qur’an dan Hadits tidak melarang mengucapkan selamat hari raya pada orang kafir, maka ini pendapat yang keliru. Karena ijma’ kaum muslimin menunjukkan terlarangnya hal ini. Dan ijma’ adalah sumber hukum Islam, sama dengan Al Qur’an dan Al Hadits. Ijma’ juga wajib diikuti sebagaimana disebutkan dalam surat An Nisa ayat 115 di atas karena adanya ancaman kesesatan jika menyelisihinya.

Ketiga, jika diberi ucapan selamat natal, tidak perlu kita jawab (balas) karena itu bukanlah hari raya kita dan hari raya mereka sama sekali tidak diridhoi oleh Allah Ta’ala.

Keempat, tidak diperbolehkan seorang muslim pergi ke tempat seorang pun dari orang-orang kafir untuk mengucapkan selamat hari raya.

Kelima, membantu orang Nashrani dalam merayakan Natal juga tidak diperbolehkan karena ini termasuk tolong menolong dalam berbuat dosa.

Keenam, diharamkan bagi kaum muslimin menyerupai orang kafir dengan mengadakan pesta natal, atau saling tukar kado (hadiah), atau membagi-bagikan permen atau makanan dalam rangka mengikuti orang kafir pada hari tersebut.

Demikianlah beberapa fatwa ulama mengenai hal ini. Semoga kaum muslimin diberi taufiko oleh Allah untuk menghindari hal-hal yang terlarang ini. Semoga Allah selalu menunjuki kita ke jalan yang lurus dan menghindarkan kita dari berbagai penyimpangan. Hanya Allah-lah yang dapat memberi taufik.

Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihat. Wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘alihi wa shohbihi wa sallam.

Diselesaikan pada siang hari, di rumah mertua tercinta, Panggang-Gunung Kidul, 18 Dzulhijah 1429 H

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal, S.T.

Artikel www.muslim.or.id