Maqalat

Memuat sejumlah makalah yang ditulis oleh para asatidzah baik tentang aqidah, ibadah, adab, tazkiyatunnufus dan sub-sub pembahasan lainnya.

Menikmati Menu Ramadhan

Disarikan dari ceramah Ust. Ade Hermansyah, Senin 29 Sya’ban 1422 H / 12 April 2021

 

Tidak terasa sesaat lagi kita akan bertemu dengan bulan Ramadhan. Masih terbayang tahun lalu, kita masuk Ramadhan sembari dihantui banyak ketakutan seiring merebaknya wabah covid-19, tahun ini pun wabah belum berakhir, meski tak semenakutkan saat itu. Sebagian saudara kita yang tahun lalu masih bersama kita, tahun ini sudah tidak lagi bersama karena lebih dulu dipanggil Allah. Kita pun tidak tahu apakah kita masih memiliki jatah usia hingga benar-benar dapat mendapati Ramadhan esok hari.

Menu Ramadhan telah disiapkan, membuat hati berbuncah ingin segera menyongsongnya. Menu itu bukan rupa-rupa makanan dan minuman favorit yang siap mengisi perut-perut kosong di kala berbuka, namun ia adalah menu-menu yang telah Allah hadirkan untuk memperkokoh iman: Shaum, shalat lima waktu, dan zakat fithri sebagai menu utama, lalu qiyamullail, tilawah, doa, zikir, i’tikaf, dan malam lailatul qadr sebagai menu tambahan dan sajian spesial. Sebagian besar menu itu tersedia pula di luar bulan Ramadhan, namun semua menjadi istimewa saat dicicipi di bulan penuh berkah ini, bulan dilipatgandakannya pahala-pahala kebaikan.

 

Kebahagiaan Orang Berpuasa

Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda:

لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ : فَرْحَةٌ عِنْدَ إِفْطَارِهِ ، وَ فَرْحَةٌ عِنْدَ لِقَاءِ رَبِّهِ

Bagi orang yang melaksanakan puasa ada dua kebahagiaan; kebahagiaan ketika berbuka, dan kebahagiaan ketika bertemu dengan Rabbnya.” (Muttafaq ‘alaih)

Sebagian orang salah memahami hadits yang mulia ini, seolah kebahagiaan itu adalah makan dan minum di waktu Maghrib setelah berlapar-lapar seharian. Baginya berbuka adalah kebahagiaan dan berpuasa adalah kesengsaraan. Puasa nampak menjadi beban baginya, lalu terlepaslah beban itu di saat berbuka. Bila itu yang terjadi alangkah ruginya orang yang berpuasa, karena kebahagiaanya lebih singkat dari pada kesengsaraannya. Berbuka itu hanya beberapa menit saja sedangkan berpuasa begitu lama hingga 12-13 jam.

Bagi orang yang menikmati ibadah puasa, kebahagiaan itu sejatinya ada pada puasanya, lalu di saat berbuka ia semakin berbahagia, bukan karena makan dan minumnya, namun karena dia berhasil menjalankan perintah Allah dan menahan hal-hal yang membatalkan puasa sejak terbit fajar hingga terbenam matahari.

 

Kunci Menikmati Ramadhan

Bila di hadapan seseorang tersaji beragam makanan dan minuman, secantik apapun penampilannya, dan semahal apapun harganya, tetap saja tak bisa mengundang selera apalagi membuatnya dapat menikmatinya, apabila ia tidak merasa butuh kepada aneka sajian tersebut. Sebaliknya orang yang merasa butuh, jauh-jauh hari akan mengidam-idamkannya dan bila telah didapat terasa berat baginya melepaskannya. Kuncinya rasa butuh.

Kunci menikmati shaum Ramadhan tiada lain rasa butuh ini. Rasa butuh kepada shaum itu sendiri, juga rasa butuh kepada Allah dan segenap ganjaran yang dijanjikan-Nya. Bukan sekedar menunaikan perintah-Nya semata, yang lebih sering menyebabkan seorang hamba merasa terbebani. Perasaan butuh akan menyampaikannya ke puncak cinta. Di atas cinta itu, menu-menu Ramadhan yang Allah sajikan dilalap habis, tak rela bila ada yang terluput,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَنتُمُ الْفُقَرَاءُ إِلَى اللَّهِ

“Hai manusia, kalian itu butuh kepada Allah.” (Fathir: 15)

Rasa butuh itulah yang menyebabkan kaum salaf dahulu menantikan kedatangan Ramadhan sejak jauh-jauh hari, dan menjadikan mereka berat berpisah dengannya. Sekeluarnya dari Ramadhan mereka takut dosanya tak diampuni, gara-gara tak pandai memanfaatkan Ramadhan selagi masih tersaji.

Mari sambut Ramadhan dengan kekuatan fisik dan mental. Jalankan setiap amalan yang disediakan Allah dengan ikhlas, penuh cinta dan butuh kepada-Nya. Jangan sampai terjadi sekeluarnya dari Ramadhan kelak kondisi kita tiada perbaikan, dosa masih berlumuran tak terbersihkan,

رَغِمَ أَنْفُ رَجُلٍ دَخَلَ عَلَيْهِ رَمَضَانُ ثُمَّ انْسَلَخَ قَبْلَ أَنْ يُغْفَرَ لَهُ

Celakalah bagi seseorang yang mendapati bulan Ramadhan, kemudian ia berlalu, tanpa diampuni dosanya. ((Hadits Shahih riwayat Tirmidzi dan Ahmad)..

Naasnya nasib orang yang menyia-nyiakan menu Ramadhan. Wal’iyâdzu billâh.

 

posted by abuhaitsambuldan/almatuq.sch.id

Salihah, Bolehkah Aku Mengenalmu?

Wanita memiliki kedudukan yang tinggi dalam Islam juga diperlakukan dengan begitu istimewa. Baik ia seorang ibu, istri, saudara, atau pun anak. Islam mengamini persamaan laki-laki dan perempuan dari sisi penciptaannya, yaitu sama-sama sebagai manusia yang memiliki kemuliaan dan keistimewaan dibandingkan dengan mahkluk lainnya. Rasulallah ` bersabda dalam hadist yang diriwayatkan oleh ‘Aisyah Radhiyallahu ’anhuma (w. 58 H):

إِنَّمَا النِّسَاءُ شَقَائِقُ الرِّجَالِ

”Sesungguhnya wanita adalah bagian dari laki-laki.”[1]

Menurut Ibnul Atsir Rahimahullah (w. 606 H) maksud wanita seperti laki-laki, seolah para wanita saudara bagi laki-laki, karena Hawa diciptakan dari Adam ‘Alaihissalam.”[2]

Peradaban jahiliyah menjadikan wanita terisolir dalam kegelapan sejati, terhina penuh penderitaan, dan reputasinya ternistakan. Di zaman jahiliyah, manakala ada bayi perempuan terlahir ke dunia sontak wajah bapaknya berubah dan bermuram durja, dan tidak sedikit di antara mereka yang langsung membunuhnya secara tragis di luar batas prikemanusiaan.

Dengan terbitnya fajar Islam maka tersingsinglah semua kabut kenistaan yang menyelimuti kaum hawa. Transpormasi jahiliyah menuju Islam tidak hanya melahirkan jaminan kelestarian hidup bagi wanita, akan tetapi Islam pun menganjurkan umatnya agar berbuat baik kepada mereka, dan memotivasi orang tua dengan dibebaskannya dari api neraka apabila bersabar dalam mendidik anak-anak perempuannya. Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda dalam hadis yang diriwayatkan dari ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anhuma:

مَنِ ابْتُلِىَ مِنَ الْبَنَاتِ بِشَىْءٍ فَأَحْسَنَ إِلَيْهِنَّ كُنَّ لَهُ سِتْرًا مِنَ النَّارِ

Barangsiapa yang diuji dengan anak-anak perempuan, kemudian dia berbuat baik kepada mereka, maka anak-anak perempuan tersebut akan menjadi penghalang dari siksa api neraka”[3]

 

Rasulallah Shalallahu alaihi wasallam adalah teladan utama dalam berbuat baik kepada wanita, beliau punya jadwal khusus untuk bertemu dengan para wanita (shahabiyat) dalam rangka memberikan nasehat dan pelajaran sebagaimana beliau lakukan hal tersebut kepada para sahabatnya. Beliau juga sangat perhatian kepada istri-istrinya, dan tidak sungkan untuk membantu mereka dalam meneyelesaikan pekerjaan rumah tangga.

Seorang Mukhadhram[1] yang bernama Al-Aswad bin Yazid Rahimahullah(w. 74 H) bertanya kepada ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anhuma tentang kebiasaan Rasulullah Shalallahu
‘alaihi wasallam
apabila sedang berada di rumah maka ia Radhiyallahu ‘anhuma menjawab:

كَانَ فِي مِهْنَةِ أَهْلِهِ فَإِذَا حَضَرَتْ الصَّلَاةُ قَامَ إِلَى الصَّلَاةِ

Beliau senantiasa membantu pekerjaan rumah isterinya, apabila tiba waktu shalat, maka beliau bangkit untuk melaksanakan shalat”[2]

Karakteristik Wanita Salihah

Sememangnya ada banyak perbedaan antara wanita salihah sejati dengan wanita salihah berkamuflase. Berikut ini akan dipaparkan karakteristik wanita salihah idaman para peria shalihin.

Mencintai Allah dan Rasul-Nya

Ketaatan adalah sinyal cinta terkuat, maka wanita salihah adalah wanita yang taat kepada Allah  dan Rasul-Nya. Imam Ibn Al-Qayyim Rahimahullah )w. 751 H) mengatakan, “cinta laksana pohon di hati, akarnya adalah ketundukan terhadap kekasih tercinta, tonggaknya adalah mengenalinya dengan segenap rasa. Rasa takut adalah rantinnya dan rasa malu adalah daunnya, sedangkan buahnya adalah ketaatan dan kepatuhan.”[3]

Apabila cinta seorang wanita kepada Allah ‘Azza wajalla telah bersemi di dalam hatinya maka ia akan semangat dalam melaksanakan kewajibannya sebagai seorang Muslimah; rajin shalatnya, sungguh-sungguh dalam membaca Al-Qur’an, menghafal dan
mentadaburinya, giat dalam melaksanakan ibadah sunahnya, tidak berani mendahulukan perintah seseorang di atas perintah Allah‘Azza wajalla dan Rasul-Nya Shalallahu ‘alaihi wasallam, dan ia akan berusaha berteman dengan wanita salihah lainnya.

Selalu Merasa Diawasi Allah (Murāqabah)

Wanita salihah merasa bahwa semua gerak-geriknya selalu diawasi oleh Allahk, sehingga ia mengekspresikan rasa malunya dengan cara tidak berbuat maksiat dan tidak menyelisihi perintah-Nya, dan selalu berusaha untuk mensucikan lahir dan batinnya.

Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Malulah kalian kepada Allah dengan sebenar-benarnya”. “Kami sudah malu duhai Rasulullah”, jawab para sahabat. Nabi bersabda, “Bukan demikian namun yang dimaksud malu kepada Allah dengan sebenar-benarnya adalah menjaga kepala dan anggota badan yang terletak di kepala, menjaga perut dan anggota badan yang berhubungan dengan perut, mengingat kematian dan saat badan hancur dalam kubur. Siapa yang menginginkan akhirat harus meninggalkan kesenangan dunia. Siapa yang melakukan hal-hal tersebut maka dia telah merasa malu dengan Allah dengan sebenar-benarnya.[1]

Berjuang Melawan Perangkap Setan (Mujāhadatunnafs)

       Wanita salihah akan selalu berjuang melawan hawa napsunya demi menyempurnakan ketaatannya kepada Allah ‘Azza Wajalla. Salah satu kunci kesuksesan dalam melawan semua fatamorgana perangkap licik setan adalah dengan menginsapi sepenuhnya bahwa permusuhan setan dengan manusia adalah permusuhan yang abadi. Setan telah bersumpah untuk merayu bani adam dengan segala cara dan upaya, terkadang menggoda wanita yang sudah biasa memakai cadar untuk melepaskannya, atau mengganti hijabnya dengan penutup kepala yang menarik perhatian mata, dan dengan langkah-langkah lainnya yang bisa menggelincirkan kaum hawa dari jalan yang semestinya.

        Mendekatkan diri kepada Allah ‘Azza wajalla dengan melakasanakan semua perintah-Nya dan menjauhi semua lakarangan-Nya, juga bergaul dengan hamba-hamba-Nya yang salihah adalah cara efektif untuk melawan godaan setan yang terkutuk.

Menghiasi Diri dengan Iman dan Akhlak Mulia

          Wanita salihah akan berusaha untuk menghiasai dirinya dengan iman dan akhlak mulia, dengan menjaga lisan dan anggota badannya dari segala sesuatu yang dilarang dalam agama, membersihkan hatinya dari debu-debu maksiat, menjaga integritas dan niat yang tulus, serta meyakini rukun iman dengan sepenuh hati dan melaksanakan semua yang menjadi konsekwensi keimanannya.

          Melalui tulisan sederhana ini, jika anda seorang wanita mudah-mudahan anda akan menjadi wanita yang lebih salihah lagi, dan jika anda seorang peria bisa mengenal wanita salihah dan dianugerahinya; dianugerahi putri salihah apabila anda sebagai orangtua, istri yang salihah apabila anda seorang suami, dan calon istri yang salihah apabila anda seorang yang lagi mencari belahan jiwa pelabuhan cinta, āmīn.

__________

[1] HR. Ahmad 26195, Abu Daud 236, Turmudzi 113, dan dihasankan Syuaib
al-Arnauth. Syaikh al-Albani juga menilai hadis ini sebagai hadis shahih.

[2] Tuhfah al-Ahwadzi, 1/312.

[3] HR Muslim. 2629

[4] Seorang yang hidup di zaman Nabi ` dan masuk Islam akan tetapi belum sempat bertemu dengan beliau `.

[5] HR. Muslim. 876.

[6] Raudhatulmuhibbin, hlm. 409.

[7] HR. Tirmidzi dll, dinilai hasan karena adanya riwayat-riwayat lain yang menguatkannya oleh Al Albani dalam Shahih Jami’ Shaghir no. 935.

Ditulis oleh Ust. Anfalullah Abu Abdirrahman, Lc.,M.Pd.

 

JURUS JITU MELAWAN MUSIBAH

Duka Ibu Pertiwi.

Akhir-akhir ini ibu pertiwi sedang dirundung kesusahan dan didera kesakitan, luka lama belum pulih sempurna, luka baru datang silih berganti. Air matanya berlinang, mas intannya terjual. Hutan gunungnya terbakar, sungai dan lautnya tercemar. Kota-kotanya tergenang, desa-desanya meradang. Kini Ibu sedang lara, merintih dan berdo’a.

Rasanya, tulisan ini tidak bisa memuat rentetan kejadian demi kejadian secara mendetail. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat sebanyak 197 bencana terjadi di seluruh wilayah Indonesia sejak 1 hingga 23 Januari 2021. Entah berapa ribu jiwa yang sudah menjadi korban. Belum lagi Covid-19 yang sampai saat ini belum berakhir informasinya, entahlah hanya Allah ‘azza wajalla yang mengetahuinya.

Dunia Adalah Ruang Ujian.

Semua sepakat bahwa dunia ini adalah tempat ujian dan cobaan, baik muslim maupun kafir tidak akan terlepas dari keduanya. Bedanya, seorang muslim mempunyai pendekatan tersendiri dalam menghadapinya, sehingga semuanya nampak terasa ringan.

Seorang muslim meyakini sepenuhnya bahwa semua yang terjadi di muka bumi ini atas kehendak Allahazza wajalla. Didesain sedemikian rupa untuk kemaslahatan semua makhluk-Nya, kendati tidak semua kejadian di alam semesta ini diperlihatkan hikmahnya.

Apabila Allahazza wajalla belum memberikan apa yang dinginkan, maka janganlah bersedih, yakinlah Allahazza wajalla lebih mengetahui apa yang terbaik untuk hamba-Nya. Belum tentu yang dicintai itu baik adanya, ada kalanya yang terjadi justru sebaliknya. Jangan tergesa-gesa untuk bahagia atau berduka. Sejatinya, suka maupun duka nilai akhirnya akan sama bagi seorang mumin yang bisa bersyukur dan bersabar. Allah azza wajalla berfirman:

وَعَسَىٰ أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. (Al-Baqarah:216)

Jurus Menghadapi Musibah.

Berikut ini beberapa kaidah dalam menghadapi musibah yang disampaikan oleh Syaikh Umar bin Abdullah Al-Muqbil Dosen di Universitas Al-Qosim Arab Saudi. Penulis coba terjemahkan dan sederhanakan dalam beberapa poin penting, yang selanjutnya disebut dengan 8 jurus jitu dalam menghadapi musibah (https://ar.islamway.net/article/40877/قواعد في تلقي المصائب):

1.   Menghibur diri dengan mengingat bahwa musibah ini bukan hanya anda yang mengalaminya, yang lain pun merasakan hal yang sama, bahkan mungkin lebih dari apa yang anda rasakan. Seorang shahabiah yang terkenal dengan sebutan Al-Khansa (w. 24 H) merasa terhibur dari kesedihan atas kematian saudaranya, karena disekelilingnya banyak yang mengalami hal yang sama, seperti dalam bait syai’rnya,

ولولا كثرةُ الباكين حولي *** على إخوانهم؛ لقتلتُ نفسي 

Andai saja di dekatku tidak banyak yang menagis

atas musibah yang menimpa saudara mereka, niscaya aku akan bunuh diri. (https://www.aldiwan.net/poem21102.html)

2.   Meyakini hikmah di balik setiap musibah. Rahasia Allah ‘azza wajalla terlalu besar untuk diketahui dan nalar kita terlalu sempit untuk memahaminya. Musibah layaknya obat, pahit rasanya dan lega setelahnya. Sudah menjadi sunatullah setelah kesusahan ada kemudahan, dan habis gelap terbitlah terang.

3.   Menambatkan hati hanya kepada Allah‘azza wajalla, karena Hanya Ia-lah yang bisa mendatangkan kebaikan dan menolak keburukan. Ketahuilah, rahmat Allah‘azza wajalla melebihi murka-Nya, dan cinta-Nya melebihi kecintaan seorang ibu terhadap anaknya.

4.   Menyadari bahwa semua yang terjadi tidak pernah keluar dari rencana Allah‘azza wajalla, sehingga tidak terlarut dalam kesedihan dan terhanyut dalam angan dan lara nestapa. Sebagaimana pesan Rasulullah shalallahu ‘awalihi wasallam kepada Ibnu ‘Abbas radhiyallahu‘anhu )w.68 H):

مَا أَصَابَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُخْطِئَكَ وَأَنَّ مَا أَخْطَأَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُصِيبَكَ 

Apa yang menimpamu (yang sudah ditakdirkan) maka tidak akan pernah meleset darimu dan apa yang belum menimpamu (yang belum ditakdirkan) maka tidak akan mengenaimu. (HR. Ahmad, no. 21653) 

5.   Menyadari hakikat dunia yang sesungguhnya. Dunia adalah fatamorgana, kesenangan semu yang penuh tipu, maka janganlah terperdaya rayuannya. Maka barang siapa yang mengetahui sunatullah yang berjalan di muka bumi ini, jiwanya akan tenang hatinya akan lapang walaupun bencana menghempas layaknya gelombang. Semakin kuat terpaannya semakin kuat pula pegangannya terhadap tali Allah‘azza wajalla,.

وَقَطَّعْنَاهُمْ فِي الْأَرْضِ أُمَمًا ۖ مِنْهُمُ الصَّالِحُونَ وَمِنْهُمْ دُونَ ذَٰلِكَ ۖ وَبَلَوْنَاهُمْ بِالْحَسَنَاتِ وَالسَّيِّئَاتِ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ 

“Dan Kami pecahkan mereka di dunia ini menjadi beberapa golongan; di antaranya ada orang-orang yang saleh dan ada yang tidak demikian. Dan Kami uji mereka dengan (nikmat) yang baik-baik dan (bencana) yang buruk-buruk, agar mereka kembali (kepada kebenaran).”[Al-A’raf 168]

Ibnu Jarir rahimahullah (w.310 H) menyatakan bahwa yang dimaksud dengan (الـحَسَنَاتُ) adalah kemudahan dalam kehidupan, dan dengan kesenangan dunia serta kelapangan rizki. Sedangkan (السَّيِّئَاتُ) adalah kesempitan dalam hidup, kesulitan, musibah, serta sedikitnya harta. (Tafsiir al-Thabari (VI/131). cet.1 Darul A’lam-Jordan, th.1423 H.)

6.   Berperasangka baik kepada Allah‘azza wajalla dalam setiap keadaan. Nilai yang kita raih dari ujian yang diberikan Allah‘azza wajalla,, berbanding lurus dengan prasangka kita kepada-Nya. Sebagimana disebutkan dalam hadis kudsi dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu ((w.59 H) Bahwa Nabi shalallahu ‘alaihi wasaalam bersabda, “Allah ‘azza wajalla berfirman:

أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي، وَأَنَا مَعهُ إِذَا ذَكَرَني 

Aku sesuai persangkaan hamba-Ku. Aku bersamanya ketika ia mengingat-Ku.

)HR. Bukhari, 7405 & Muslim, 2675).

7.   Menghiasi diri dengan kesabaran dan berlapang dada dengan apa yang Allah‘azza wajalla gariskan. Ketahuilah, semakin berat ujiannya semakin besar pahalanya dan semakin dekat juga kabar gembira yang akan datang setelahnya.

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوْعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْاَمْوَالِ وَالْاَنْفُسِ وَالثَّمَرٰتِۗ وَبَشِّرِ الصّٰبِرِيْنَ 

Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (Al-Baqarah:155) 

8.   Berdo’a kepada yang Maha Kuasa. Seorang Mukmin sejatinya tidak boleh lelah dan bosan dalam berdo’a karena itu adalah senjatanya yang paling ampuh. Kendati yang diharapkan dalam doanya belum terwujud, itu bukan berarti tidak terkabul, akan tetapi Allah‘azza wajalla akan memberikan yang paling baik dari yang dimintanya. Sebagimana hadis yang diriwayatkan oleh Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu’anhu (w.74 H) Rasulallah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَدْعُو بِدَعْوَةٍ لَيْسَ فِيهَا إِثْمٌ ، وَلاَ قَطِيعَةُ رَحِمٍ ، إِلاَّ أَعْطَاهُ اللَّهُ بِهَا إِحْدَى ثَلاَثٍ : إِمَّا أَنْ تُعَجَّلَ لَهُ دَعْوَتُهُ ، وَإِمَّا أَنْ يَدَّخِرَهَا لَهُ فِي الآخِرَةِ ، وَإِمَّا أَنْ يَصْرِفَ عَنْهُ مِنَ السُّوءِ مِثْلَهَا قَالُوا : إِذًا نُكْثِرُ ، قَالَ : اللَّهُ أَكْثَرُ. 

“Tidak ada seorang muslim pun yang berdoa dengan sebuah doa yang tidak terkandung di dalamnya dosa dan pemutusan silaturahmi, kecuali Allah akan memberikannya salah satu dari ketiga hal berikut: Allah akan mengabulkannya dengan segera, mengakhirkan untuknya di akhirat atau memalingkannya dari keburukan yang semisalnya. Para sahabat berkata, “Kalau begitu kami akan memperbanyak doa kami.” Beliau berkata, “Allah lebih banyak lagi.”

(HR. Ahmad, 17/213)

Ditulis Oleh : Ust. Anfalullah, Lc., M.Pd. (Mudir Markaz Al-Ma’tuq)