Relokasi Dapur Putera

Area dapur putera yang dibongkar

Dapur dan tempat makan sementara,
kayak kemah ya…

“Ustadz, saya sedih juga lihat dapur ini dibongkar,” ujar Fikri Muh Wahid, salah seorang santri Al-Ma’tuq kelas 5.

“Emangnya kenapa?” si ustadz balik bertanya.

“Terlalu banyak kenangan di dapur ini tadz..”

Begitulah reaksi sebagian santri melihat dapur Pesantren dibongkar habis dua pekan yang lalu. Memang pesantren sudah jauh-jauh hari berencana merenovasi dapur putera yang semakin lama semakin terasa sempit seiring bertambahnya jumlah santri.

Terpaksa Pesantren membongkar total dapur bersejarah yang dibangun sejak awal pendirian Al-Ma’tuq tahun 1996 yang lalu, untuk membangun dapur dan ruang makan santri yang lebih luas dan kokoh, apalagi di tahun ajaran mendatang jumlah santri dipastikan bertambah minimal 90 – 100 santri.

Para santri dan ustadz pembimbing yang makan bersama santri pun harus rela dipindah lokasi makan ke dapur darurat yang terletak di samping kantin lama yang saat ini digunakan sebagai tempat masak sementara oleh ibu-ibu dapur.

Bagi sebagian santri, dapur sementara beratap terpal itu seakan mengingatkan suasana camping dengan kemah yang lebih luas dan lebih bersih tentunya.

“Tak apalah ya, jarang-jarang kan kita camping. Anggap aja lagi camping, he…!!”