AKHLAK MALU

MALU

  1. PENGERTIAN RASA MALU

Banyak sekali definisi rasa malu yang bisa kita dapatkan , antara lain sebagi berikut:
1. Keengganan hati melakukan suatu hal karena khawatir akan mendapat celaan.
2. Satu perubahan yang muncul dalam hati ketika ada perasaan takut dihina dan dicela.
3. Sebuah perangai yang mendorong pemiliknya meninggalkan keburukan dan melakukan kebaikan.
Dari tiga pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa barangsiapa yang khawatir dicap jelek oleh halayak ramai maka ia mesti memiliki sifat tersebut. Orang yang punya sifat tersebut secara otomatis pasti meninggalkan suatu hal yang menyebabkan dia tercela oleh dirinya sendiri maupun orang lain. Orang yang punya sifat itu juga akan mengkhawatirkan kehormatan dirinya, sebaliknya seorang dikatakan tidak punya sifat tersebut lebih menjaga keselamatan tubuhnya tanpa mempedulikan kehormatannya.
Sifat malu bisa muncul karena faktor kejiwaan ( nafsani ) dan faktor keimanan (Imani). Rasa malu karena faktor kejiwaan diciptakan Allah menjadi penghuni tetap setiap manusia, seperti orang malu membuka aurat atau malu bila ada orang melihatnya sedang bersebadan.
Rasa malu yang dipicu oleh keimanan muncul ketika seorang hamba tidak mau bermaksiat karena takut kepada Allah. Rasa malu ada kalanya karena manusia atau karena Allah. Rasa malu karena manusia tidak mendapat pahala, adapun rasa malu karena Allah mendapat pahala dan hal ini harus diusahakan secara maksimal karena celaan dan pujian Allah diatas segalanya. Pujian sejati adalah pujian yang didapat dari Allah dan celaan sejati adalah celaan yang datang dari Allah. Semakin kita merasa Allah selalu mengawasi maka rasa malu akan terasa lebih hangat menyelimuti. Allah berfirman:
”Apakah dia tdak tahu bahwa sesungguhnya Allah melihat segala perbuatannya ?” (al-‘Alaq : 14)

  1. MALU BAGIAN DARI IMAN

Ketika rasa malu menempati kedudukan penting dalam pandangan syara’ maka Rasulullah -shallallahu’alaihi wa sallam- secara khusus menyebutkan di antara cabang- cabang iman yang lain setelah beliau menjelaskan cabang iman yang tertinggi dan yang paling rendah. Dari Abu Hurairah Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:
” Iman memiliki lebih dari tujuh puluh tiga atau lebih dari enam puluh tiga cabang. Yang paling tinggi adalah ucapan laa ilaaha illallah dan yang paling rendah ialah menyingkirkan hal yang mengganggu di jalan. Dan malu termasuk cabang iman.”(HR MUSLIM :1/63)
Barangsiapa dikaaruniai sifat malu maka sungguh dia telah mendapat anugrah yang besar. Ini disebabkan rasa malu merupakan bagian dari iman atau agama bahkan mayoritas kebaikan .
Dalam satu kesempatan , Rasulullah -shallallahu’alaihi wa sallam- menjumpai seorang yang mencela saudaranya .Orang itu tidak setuju akan rasa malu yang dimiliki oleh saudaranya yang karena rasa itu menjadikannya enggan menuntut haknya dari seseorang. Melihat kejadian itu ,Rasulullah akhirnya memberi nasihat  kepada orang itu agar tidak usah mencela sang saudara karena rasa malu yang dimilikinya, sebab rasa malu bagian dari iman.
Rasa malu semuanya adalah baik dan merupakaan bagian agama secara keseluruhan, rasa malu hanya akan membawa pada kebaikan karena rasa malu adalah satu watak yang  mendorong pemiliknya untuk meninggalkan keburukan serta ketelodoran akan hak orang lain.
Barangsiapa yang menjauhi perangai buruk dengan segala jenisnya, baik ucapan atau perbuatan dengan senantiasa berusaha menjalankan perintah Allah maka dia termasuk orang yang bertakwa dan pasti akan mendapatkan segala kebaikan serta menjadi orang yang dicintai Allah (wali Allah). Jika demikian maka benarlah apa yang disabdakan oleh Rasulullah:
Malu itu semuanya baik .” (HR Bukhari –Muslim: 1/64)
Atau
”Malu tidak mendorong kecuali kepada kebaikan .”(HR  Bukhari-Muslim : 1/64)

  1. CIRI KHAS PARA NABI DAN RASUL

Semua nabi dan rasul juga mempunyai watak pemalu serta menjadikan rasa malu sebagai syariat untuk umat mereka dan tak pernah ditemui dalam setiap sejarah kenabian kecuali mencantumkan rasa malu sebagai syariat yang harus dikerjakan, Rasulullah bersabda:
”Lima hal yang menjadi sunnah para Rasul: malu ,bijak,bekam,siwak dan memakai wewangian.”(HR Bukhari- Baihaki )
Bila malu menjadi sunnah para utusan berarti seorang manusia
pemalu telah mengikuti jejak para utusan serta dia mendapatkan satu anugrah yang tak dimiliki oleh orang lain. Para ulama mengatakan ada sepuluh perkara yang masuk kategori akhlak mulia : jujur dalam berbicara, setia dan perhatian kepada manusia, menyampaikan amanat, menyambung kerabat, melindungi tetangga, melindungi teman, membalas budi baik orang lain, menyuguh (menjamu dan menghormati ) tamu, memberi kepada yang meminta, dan menjadikan rasa malu sebagai dasar dari semuanya.
Maksud melindungi teman dan tetangga adalah  menjaga kehormatan dan hak mereka serta membela bila ada orang lain yang mencela tanpa hak.
Bila rasa malu menjadi pokok dari semua budi pekerti mulia maka bisa disimpulkan bahwa rasa malu di manapun pasti akan menjadi sebuah perhiasan indah yang menambah keindahan sesuatu yang memang sudah indah, laksana rerumputan dan bunga-bunga yang menghiasi tanah.
Malu, cemburu dan sayang bisa jatuh kepada ketercelaan dan dimurkai Allah begitu pun sebaliknya, bisa terpuji dan diridhai-Nya.
Oleh karena itu seyogyanya bagi kita kaum muslimin senantiasa untuk malu karena merupakan ciri para Rasul yang harus kita pijak agar kita selamat di dunia dan akhirat.

Kiriman: Supenda Al-Jampanjy (santri kelas 6)