ITSAR

بسم الله الرحمن الرحيم

ITSAR

Kata itsar diambil dari kata aatsara-yuutsiru-iitsar, yang berarti mendahulukan orang lain. Sebuah akhlaq terpuji, yang dengannya Allah memuliakan seorang muslim, karena tatkala ia mendapatkan  peluang untuk mendahulukan saudaranya dalam hal kebaikan, maka ia melakukanya.  Ada yang rela menahan lapar, demi melihat saudaranya kenyang. Ada yang rela menahan haus, hanya untuk melihat saudaranya puas meneguk air. Bahkan ada yang rela mati, agar saudaranya hidup. subhanallah

Seperti itulah keadaan seorang Muslim pada masa awal-awal Islam. Kita ingat, ketika para sahabat Rasulullah yang berada di Makkah sudah tidak tahan dengan segala macam gangguan yang dilancarkan oleh orang-orang kafir Quraisy, Rasulullah memerintahkan meraka untuk berhijrah ke sebuah negeri yang bernama Yatsrib. Tatkala mereka sampai ke negeri yang telah tersinari oleh islam itu, mereka mendapati sahabat-sahabat Rasulullah yang sangat baik. Rasulullah pun mempersaudarakan mereka, dan saat itulah, mereka tidak segan-segan memberikan apapun kepada yang berhijrah ke Yatsrib untuk menyelamatkan agama mereka dari orang-orang kafir. Mereka berbagi rumah, kebun, dan harta mereka yang lain. Bahkan seorang sahabat anshor menawarkan istrinya kepada Abdurrahman bin ‘Auf.

Dengan semua yang mereka lakukan ini, Allah ta’ala memuji mereka. Allah berfirman :

“و يؤثرون علي أنفسهم ولو كان بهم خصاصة ومن يوق شح نفسه فأولئك هم المفلحون”      ( سورة الحشر9: )

”Dan mereka mengutamakan (Muhajirin), atas dirinya sendiri,meskipun mereka juga memerlukan. Dan siapa yang dijaga dirinya dari kekikiran, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung.”

Ada sebuah kisah yang dituturkan oleh Khudzaifah al-‘Adawy, dia berkata: “ Pada hari setelah perang Yarmuk selesai, aku pergi untuk mencari anak pamanku, dan aku membawa air. Kemudian aku bergumam, “Seandainya dia masih hidup, akan kuberi minum, dan akan ku bersihkan wajahnya.”  Ternyata aku berhasil menemukannya. Aku  katakan kepadanya: ”Mau minum…?” diapun mengangguk. Kemudian ada seorang laki-laki mengerang,“Ahh… “ maka, anak pamanku memberi isyarat kepadaku untuk mendatangi laki-laki itu. Ternyata dia adalah Hisyam bin al-‘Ash. Maka, aku berkata padanya :” mau minum…?” diapun mengagguk. Tapi, terdengar suara erangan lagi. Maka Hisyam menyuruhku mendatangi sumber suara itu. Maka aku mendatanginya, tapi dia sudah meninggal. Maka aku kembali kepada Hisyam, tapi diapun sudah meninggal. Akupun kembali kepada anak pamanku, tapi dia juga sudah meninggal. Semoga Allah merahmati mereka semua.”

Begitulah orang-orang Muslim pada zaman dahulu. Mereka lebih mementingkan orang lain dari pada dirinya sendiri. Kita memohon kepada Allah, agar memberi hidayah kepada kita semua, sehingga dapat mencontoh akhlaq mereka dan menjauhkan kita dari sifat egois. Amin

Kiriman: Iyan Sofyan (santri kelas 6)