Fitrah Itu Adalah Tauhid

Rasulullah shallallaahu ‘alaih wa sallam bersabda:

مَا مِنْ مَوْلُودٍ إِلَّا يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ

Tidak ada yang dilahirkan kecuali di atas fitrah, lalu kedua orang tuanya menjadikannya Yahudi, atau Nasrani, atau Majusi. (H.R. Bukhari dan Muslim)
Yang dimaksud dengan fitrah dalam hadits di atas adalah keadaan asal saat manusia diciptakan, yaitu bertauhid, sebagaimana firman Allah:

فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا فِطْرَتَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ [الروم : 30]

Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus.

Tauhid adalah mengimani adanya Allah dan mengesakan-Nya dalam rububiyyah (kekuasaan) dan uluhiyyah (ketuhanan), dan mengimani semua nama dan sifat-Nya.
Allah menciptakan manusia dengan dibekali tauhid sebagai fitrah, yang merupakan modal dasar sebagai makhluk yang tercipta untuk menjadi hamba-Nya. Maka seandainya manusia dibiarkan dari sejak lahir dan tumbuh dengan sendirinya tanpa ada yang mempengaruhinya, niscaya dia akan tetap dalam keadaan bertauhid. Namun setan tidak akan pernah tinggal diam untuk menyesatkan manusia dan menyimpangkannya dari tauhid. Hal mana ditegaskan oleh Allah dalam sebuah hadits qudsi:

وَإِنِّى خَلَقْتُ عِبَادِي حُنَفَاءَ كُلَّهُمْ وَإِنَّهُمْ أَتَتْهُمُ الشَّيَاطِينُ فَاجْتَالَتْهُمْ عَنْ دِينِهِمْ وَحَرَّمَتْ عَلَيْهِمْ مَا أَحْلَلْتُ لَهُمْ وَأَمَرَتْهُمْ أَنْ يُشْرِكُوا بِى مَا لَمْ أُنْزِلْ بِهِ سُلْطَانًا

Dan sesungguhnya Aku telah ciptakan hamba-hamba-Ku semua dalam keadaan lurus (di atas tauhid), dan telah datang kepada mereka setan-setan yang menyimpangkan mereka dari agama mereka. Mengharamkan apa yang Aku halalkan, menyuruh mereka untuk memepesekutukan-Ku dengan dengan sesuatu yang Aku sendiri tidak menurunkan keterangan tentang itu. (H.R. Muslim)
Manusia pertama yang Allah ciptakan, yaitu Nabi Adam ‘alaihissalam adalah seorang yang memiliki fitrah (ber-Tauhid), begitu pula anak cucunya, selama kurang lebih sepuluh abad, semuanya hidup di atas tauhid, artinya mereka berhasil menjaga fitrah. Sampai datang kaum Nabi Nuh, di mana setan berhasil menggoda dan mengajak mereka untuk mempersekutukan Allah. Maka Allah subhaanahu wa ta’ala mengutus Nabi Nuh ‘alaihissalam untuk mengembalikan mereka ke jalan yang benar, mengeluarkan mereka dari kemusyrikan yang menghinakan mereka dan menurunkan derajat mereka dari makhluk yang paling mulia menjadi yang paling hina.
Begitulah seterusnya, Allah mengutus para nabi dan rasul secara terus menerus untuk menyeru manusia agar beribadah hanya kepada Allah dan menjauhi segala sesembahan selain-Nya. Allah berfirman:

ثُمَّ أَرْسَلْنَا رُسُلَنَا تَتْرَى [المؤمنون : 44]

Kemudian Kami utus (kepada umat-umat itu) rasul-rasul Kami berturut-turut

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ [النحل : 36]

Dan sungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut

Alhasil, Allah mengutus para nabi kepada umat masing-masing dengan misi menjaga fitrah manusia, yaitu tauhid, dan membersihkannya dari noda kemusyrikan yang mengotorinya.

<p style=”text-align: right;”><span style=”font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Tahoma; direction: rtl;” lang=”AR-SA”> </span></p>