Tafsir Surat Al-Fatihah (bag. 2)

Ada satu lagi tingkatan hidayah yang merupakan tingkatan terakhir, yaitu hidayah kepada jalan menuju  surga pada hari kiamat. Maka barang siapa mendapat hidayah di dunia ini kepada jalan Allah yang lurus yang ditunjukkan oleh para rasul yang diutus oleh-Nya dan dalam kitab-kitab yang diturunkan-Nya, niscaya di akhirat kelak mendapat petunjuk ke jalan lurus menuju surga-Nya, tempat segala pahala tercurah dari-Nya.
Sesuai dengan kemantapan seorang hamba di atas jalan yang dibentangkan oleh Allah untuk hamba-hamba-Nya di dunia ini, seperti itu pula kemantapannya di atas jalan yang dibentangkan di atas neraka jahannam. Dan sesuai dengan perjalanan yang ditempuhnya di atas jalanini di dunia, seperti itu pula perjalannanya di atas jembatan itu di akhirat. Di antara mereka ada yang berjalan secepat kilat, ada yang berjalan secepat kedipan mata, ada yang berjalan secepat angin, ada yang berjalan secepat kuda, ada yang berlari-lari kecil, ada yang berjalan seperti biasa, ada yang merangkak, ada yang selamat dengan badan penuh luka, adapula yang tersungkur di neraka dengan tangan dan kaki terikat. Maka hendaknya seorang hamba melihat bagaimana perjalanannya di atas shirath (jembatan di atas neraka) di akhirat kelak dengan perjalanannya di atas shirath (jalan lurus) di dunia ini, sama persis, balasan yang setimpal, karena seluruh hamba tidak akan dibalas kecuali sesuai dengan yang telah diperbuatnya di dunia.
Hendaknya seorang hamba melihat syubhat dan syahwat yang merintanginya dari perjalanannya di atas jalan yang lurus ini, karena sesungguhnya itu adalah duri-duri di dua sisi jembatan di akhirat kelak yang akan menyambar dan menghalanginya untuk berlalu di atas jembatan itu. Bila syubhat dan syahwat itu banyak dan kuat di dunia, maka duri-duri itu pun banyak dan kuat di sana. Dan Rabb-mu tidak akan pernah menzalimi seluruh hamba. Dengan demikian permintaan hidayah mencakup pencapaian segala kebaikan dan keselamatan dari segala keburukan.
Ketujuh, dengan mengetahui objek yang diminta, yaitu al-shirat al-mustaqim.  Sebuah jalan tidak disebut shirat (jalan lurus) kecuali bila memiliki lima ciri: 1) lurus; 2) menyampaikan kepada tujuan; 3) dekat; 4)menampung seluruh orang yang berlalu di atasnya; dan 5) menuju tujuan yang pasti.
Jalan lurus berarti dekatan, karena garis yang lurus adalah garis yang paling dekat menyambungkan dua titik. Bila terjadi kebengkokan, maka jalan semakin panjang dan jauh. Lurusnya jalan itu juga mengandung arti bahwa jalan itu menyampaikan kepada tujuan. Dan kemampuannya menampung semua yang berjalan di atasnya mengisyaratkan keluasannya. Dan disandarkannya jalan itu kepada Allah Yang member nikmat kepda mereka dan disifatinya dengan penyelisihan terhadap jalan orang-orang yang mendapat murkan Allah dan sesat, menunjukkan bahwa jalan itu sudah pasti tujuannya.
Kedelapan, dari penyebutan orang-orang yang mendapatkan ni’mat dan perbedaan mereka dari kelompok yang dimurkai dan kelompok sesat. Manusia sesuai dengan pengetahuan dan pengamalannya terhadap kebenaran, terbagi menjadi tiga kelompok ini. Karena di antara manusia ada yang mengetahui kebenaran dan ada pula yang tidak mengetahuinya. Dan yang mengetahui kebenaran itu ada yang menjalankannya, ada pula yang menyelisihinya. Begitulah pengelompokan manusia, tidak akan ada yang keluar dari itu.
Manusia yang mengetahui kebenaran dan mengamalkannya adalah yang mendapatkan ni’mat, dia mensucikan dirinya dengan ilmu yang berguna dan amal shalih dan dialah orang yang beruntung. Sedangkan manusia yang mengetahui kebenaran tetapi mengikuti hawa nafsunya, dialah manusia yang dimurkai. Dan manusia yang tidak mengetahui kebenaran adalah manusia yang sesat.
Pada hakikatnya, manusia yang dimurkai itu adalah manusia yang sesat karena tidak mendapatkan hidayah untuk beramal. Sementara manusia yang sesat juga dimurkai karena kesesatannya, tidak mengetahui kebenaran yang menuntunnya kepada amal. Sehingga kedua kelompok ini sama-sama sesat dan dimurkai. Akan tetapi manusia yang tidak mengamalkan kebenaran setelah mengetahuinya, lebih pantas dan berhak untuk mendapatkan predikat manusia yang dimurkai.
Disarikan dari al-Tafsir al-Qayyim li Ibn al-Qayyim, oleh Ade Hermansyah