Tafsir Surat Al-Fatihah (bag. 1)

Surat Al-Fatihah adalah puncak segala keinginan yang luhur: Di dalamnya Allah I mengenalkan diri-Nya melalui tiga nama-Nya yang merupakan induk seluruh al-Asma al- Husna (nama-nama yang paling baik) dan al-Sifat al-‘Ulya (sifat-sifat yang paling luhur). Ketiga nama tersebut adalah Allah, Rabb dan Rahman. Surat ini menerangkan ilahiyyah (ketuhanan), rububiyyah (kekuasaan) dan rahmat (kasih sayang).
“إياك نعبد” dibangun di atas ilahiyyah-Nya, “وإياك نستعين” dibangun di atas rububiyyah-Nya, dan permintaan petunjuk ke jalan yang lurus (الصراط المستقيم) di atas rahmat-Nya. Sedangkan الحمد (pujian) mencakup ketiga hal tersebut. Karena Allah-lah yang terpuji dalam ilahiyyah, rububiyyah dan rahmat-Nya. Di mana pujian dan keagungan yang sempurna hanyalah milik Allah semata.
Surat ini juga mengandung pembuktian tentang adanya hari kembali dan pembalasan bagi seluruh hamba atas seluruh perbuatan mereka, yang baik dan yang buruk. Dan Allah Satu-satunya Yang berkuasa menghakimi seluruh makhluk dengan hukum-Nya yang Maha adil. Semua itu terkandung dalam firman-Nya: مالك يوم الدين.
Surat ini juga mencakup pembuktian akan kenabian, yang bisa dilihat dari berbagai aspek. Pertama, Allah sebagai Rabb (Pencipta) seluruh alam, tidak pantas meninggalkan hamba-hambaNya begitu saja tanpa memberitahu mereka apa yang bermanfaat dan apa yang berbahaya bagi kehidupan mereka di dunia dan akhirat. Karena yang demikian itu bertentangan dengan rububiyyah-Nya dan menisbatkan sesuatu yang tidak layak kepada-Nya.  Sungguh tidak menghormati Allah sesuai dengan kedudukan-Nya siapa yang berlaku seperti itu.
Kedua, dari nama “Allah” yang berarti Dzat yang diibadahi. Tidak ada jalan untuk mengetahui bagaimana beribadah kepada-Nya kecuali dengan perantara utusan-utusan-Nya.
Ketiga, dari nama-Nya “Al-Rahman (Maha Penyayang)”, Karena kasih sayang-Nya tidak memungkinkan-Nya untuk menyia-nyiakan hamba-hamba-Nya, atau tidak memberi tahu mereka apa jalan menuju kesempurnaan. Maka barang siapa memenuhi nama Al-Rahman sesuai dengan hak-Nya, pasti mengetahui bahwa ia mencakup pengutusan para rasul dan penurunan kitab-kitab, lebih penting dari menurunkan hujan, menumbuhkan tumbuh-tumbuhan dan mengeluarkan biji-bijian. Maka tuntutan kasih sayang untuk menghidupkan hati dan ruh lebih penting dari tuntutan pemenuhan kebutuhan badan. Akan tetapi orang-orang yang terhalang dari kebaikan mendapatkan dari nama ini apa yang merupakan bagian binatang saja. Sementara orang-orang yang berakal mengetahui apa yang ada di belakang itu.
Keempat, dari makna “يوم الدين (hari pembalasan)”. Hari itu adalah waktu di mana Allah membalas semua hamba sesuai dengan amalnya. Allah memberi pahala karena kebaikan yang mereka lakukan dan memberi siksa atas kemaksiatan dan keburuhkan yang mereka lakukan. Dan Allah sama sekali tidak akan menyiksa seseorang sebelum ditegakkannya bukti atas mereka. Dan hujjah tersebut bisa ditegakkan karena adal rasul-rasul-Nya dan kitab-kitab-Nya. Karena para nabi dan rasul ditetapkan pahala dan siksa. Dan dilaksanakannya jari pembalasan, lalu orang-orang baik di bawa menuju Surga yang mengasyikkan dan orang-orang kafir di bawa ke neraka yang menyakitkan.
Kelima, dari firman-Nya: “إياك نعبد(hanya kepada-Mu kami beribadah)”, karena beribadah kepada Allah Ta’ala tidak mungkin dilakukan kecuali dengan apa yang dicintai dan diridai-Nya. Beribadah kepadanya, yaitu bersyukur, cinta dan takut kepada-Nya adalah sesuatu yang fitrah dan bisa dimengerti oleh akal sehat. Tetapi cara beribadah dan materi ibadah tidak bisa diketahui kecuali melalui para rasul-Nya dan penjelasan mereka. Dan di sini ada penjelasan bahwa pengutusan para rasul dalah perkara yang diterima oleh akal. Barang siapa mengingkari rasul berarti ia mengingkari Allah Yang mengutusnya, juga berarti tidak beriman kepada-Nya, dan karena itu pula Allah menjadikan kekufuran terhadap rasul-rasul-Nya sama dengan kufur kepada-Nya.
Keenam, dari firman-Nya: اهدنا الصراط المستقيم (Tunjukilah kami jalan yang lurus). Hidayah (petunjuk) adalah penjelasan dan penunjukkan kemudian taufiq dan ilham yang datang setelah penjelasan dan penunjukkan. Tidak ada jalan kepada penjelasan dan penunjukan kecuali dari para rasul. Maka apabila telah terjadi penjelasan dan penunjukan dan pengenalan, terjadilah hidayah taufiq dan tumbuhlah iman dalam hati dan menjadikannya cinta kepada iman dan dihiasi dalm hati sehingga membuatnya lebih mementingkan-Nya, rida dengan-Nya dan selalu mengharapkan-Nya.
Di sini ada dua hidayah yang masing-masing berdiri sendiri, tidak akan tercapai kemenangan kecuali dengannya. Keduanya mengandung pengenalan apa yang tidak kita ketahui dari kebenaran secara terperinci dan global, mengilhami kita untuknya dan menjadikan kita berkeinginan mengikutinya lahir dan batin. Kemudian Dia menciptakan untuk kita kemampuan untuk melaksanakan tuntutan petunjuk dengan perkataan dan perbuatan dan tekad kemudian melestarikannya bagi kita dan memantapkan kita di atas sampai mati.
Dari sini diketahui betapa pentingnya permintaan hamba dengan do’a ini melebihi segala kepentingan. Juga diketahui betapa salahnya perkataan orang yang mengatakan: “Bila kita telah mendapat petunjuk, mengapa kita meminta petunjuk lagi?” Karena sesungguhnya kebenaran yang tidak kita ketahui jauh lebih banyak bila dibandingkan dengan yang kita ketahui, dan apa yang tidak ingin kita lakukan karena menganggap ringan atau karena malas sama dengan yang ingin kita lakukan, atau bahkan lebih banyak, atau lebih sedikit. Begitu pula apa yang kita ketahui secara global tapi tidak ketahui secara rinci tidak bisa kita hitung satu per satu. Dan kita membutuhkan hidayah yang sempurna. Maka barang siapa yang telah memiliki semua hal itu dengan sempurna, berarti permintaan hidayah darinya adalah permintaan untuk ditetapkan dan dilestarikan.
Dikutip dari Tafsir al-Qayyim li Ibn al-Qayyim, karya Muhammad Uweis al-Nadwi