Melihat Allah

Khutbah Pertama

بسم الله الرحمن الرحيم

إن الحمد لله نحمده و نستعينه و نستغفره و نعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا، من يهد الله فلا مضل له ومن يضلل فلا هادي له. أشهد أن لا إله إلا الله و أشهد أن محمدا عبده و رسوله.

يا أيها الذين آمنوا اتقوا الله حق تقاته و لا تموتن إلا و أنتم مسلمون.

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا  يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا  أما بعد،

فإن أصدق الحديث كتاب الله، و خير الهدي هدي النبي r، وشر الأمور محدثاتها وكل محدثة بدعة و كل بدعة ضلالة و كل ضلالة في النار.

Hadirin jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah!
Jarir bin Abdillah al-Bajali t, menuturkan kepada kita pengalamannya bersama Rasulullah Sallaahu ‘alaih wasallam:
“Suatu malam kami (para sahabat y) duduk bersama Rasulullah r, di bawah sinar bulan purnama yang terang benderang. Seraya melihat bulan yang sedang purnama tersebut beliau bersabda:

” أَمَا إِنَّكُمْ سَتَرَوْنَ رَبَّكُمْ كَمَا تَرَوْنَ هَذَا الْقَمَرَ لاَ تُضَامُّونَ فِى رُؤْيَتِهِ فَإِنِ اسْتَطَعْتُمْ أَنْ لاَ تُغْلَبُوا عَلَى صَلاَةٍ قَبْلَ طُلُوعِ الشَّمْسِ وَقَبْلَ غُرُوبِهَا”

“Sesungguhnya kalian akan melihat Allah, Tuhan kalian, di hari kiamat nanti sebagaimana saat ini kalian melihat bulan. Kalian tidak akan berdesakan saat melihat-Nya. Maka kalian jangan sampai meninggalkan shalat sebelum terbit dan terbenam matahari.”
Jarir t berkata  bahwa yang dimaksud adalah shalat shubuh dan ashar. Kemudian dia membaca:   وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ قَبْلَ طُلُوعِ الشَّمْسِ وَقَبْلَ غُرُوبِهَا  (Dan bertasbihlah dengan memuji Tuhan-Mu sebelum terbit dan terbenam matahari).
Hadits ini hadits shahih, diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim.

Hadirin jama’ah Jum’at rahimakumullah!
Hadits yang dibacakan tadi adalah sebuah hadits yang agung, mengandung banyak sekali pelajaran dan hikmah. Cocok untuk kita jadikan bahan renungan di hari Jum’at yang penuh berkah ini.
Pelajaran pertama, diambil dari perkataan Jarir t: “Suatu malam kami (para sahabat y) duduk bersama Rasulullah r, di bawah sinar bulan purnama yang terang benderang”.
Apa yang dilakukan oleh Rasulullah r ini mengajarkan kepada kita bahwa Rasulullah r adalah seorang pemimpin yang rendah hati, yang selalu menyempatkan diri duduk bersama para sahabatnya, baik pagi, siang, sore dan malam. Di samping itu, Rasululullah r pun adalah seorang guru yang selalu memanfaatkan waktu untuk menyampaikan ilmu kepada muridnya, mereka adalah para sahabat, tanpa memandang usia mereka, karena memang pendidikan adalah sebuah proses perubahan menuju kesempurnaan, tanpa batas waktu. Pendidikan adalah hak dan kewajiban setiap Muslim dari sejak lahir sampai ajal menjemput dirinya.
Pelajaran kedua, adalah sabda Rasulullah r:

” أَمَا إِنَّكُمْ سَتَرَوْنَ رَبَّكُمْ كَمَا تَرَوْنَ هَذَا الْقَمَرَ لاَ تُضَامُّونَ فِى رُؤْيَتِهِ”

“Rasulullah r mengabarkan kepada kita, bahwa para sahabat akan melihat Allah r di hari kiamat kelak dengan jelas, sebagaimana mereka bisa melihat bulan purnama saat itu.”
Apa yang dikatakan oleh Rasulullah r kepada para sahabatnya, tentunya tidak khusus untuk mereka saja, tapi untuk semua orang mu’min yang mengikuti jejak mereka sampai akhir zaman. Hal ini berdasarkan hadits yang banyak sekali dan sampai derajat mutawatir, yang tidak diragukan lagi kebenarannya. Imam Ibnu Katsir berkata: “Kepastian bahwa orang-orang mukmin melihat Allah di akhirat kelak dikuatkan oleh hadits-hadits shahih, yang diriwayatkan oleh orang-orang yang sangat banyak, sehingga mustahil mereka semua berdusta, menurut para ahli hadits, sehingga tidak mungkin ditolak atau dibantah.”
Hadirin jama’ah Jum’at rahimakumullah!
Melihat Allah I adalah sebuah kenikmatan luar biasa yang tiada taranya, tidak akan ada kata yang mampu mengungkapkan betapa kebahagiaan yang dirasakan oleh seorang yang melihat Allah I dengan mata kepalanya sendiri. Untuk itu Allah I menjelaskan dalam firman-Nya:

وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ نَاضِرَةٌ () إِلَى رَبِّهَا نَاظِرَةٌ () [القيامة : 22 ، 23]

“Wajah-wajah (orang-orang mukmin) pada hari itu berseri-seri. Kepada Tuhannyalah mereka melihat.”

عن صهيب، عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: “إذا دخل أهلُ الجنة الجنة” قال: “يقول الله تعالى: تريدون شيئا أزيدكم؟ فيقولون: ألم تُبَيض وجوهنا؟ ألم تدخلنا الجنة وتنجنا من النار؟” قال: “فيكشف الحجاب، فما أعطوا شيئا أحب إليهم من النظر إلى ربهم

Dari Shuhaib t, bahwa Rasulullah r bersabda: “Apabila ahli surga telah masuk ke dalam surga, Allah I berkata kepada mereka: “Apakah kalian mengiginkan Aku memberi tambahan (ni’mat) kepada kalian?. Mereka menjawab: “Bukankah Engkau telah memutihkan wajah-wajah kami? Bukankah Engkau telah memasukkan kami ke dalam surga dan menyelamatkan kami dari neraka? Kemudian Allah I menyingkap tabir penghalang (sehingga mereka bisa melihat-Nya). Maka mereka tidak pernah mendapatkan sesuatu yang lebih mereka cintai dari pada melihat kepada Allah Tuhan mereka.” (H.R. Muslim)
Kita tentunya tidak bisa merasakan nikmatnya melihat Allah sekarang, juga tidak mungkin kita bisa membayangkannya. Namun sebagai perbandingan, masing-masing kita mungkin pernah merindukan seseorang yang telah lama berpisah, anak merindukan ibu dan bapaknya, orang tua merindukan anaknya, kakak merindukan adiknya, adik merindukan kakaknya, istri merindukan suaminya, suami merindukan istrinya. Kemudian setelah perpisahan itu mereka bertemu, pasti mereka merasakan kebahagiaan yang luar biasa. Saya kira semua bisa merasakan hal itu.
Nah, bila di dunia bisa seperti itu, bagaimana dengan seorang mu’min yang beriman kepada Allah tapi dia tidak melihat-Nya, melaksanakan segala perintah-Nya agar bisa bertemu dengan-Nya, menjauhi semua larangan-Nya agar tidak dijauhkan dari-Nya, selalu menyebut nama-Nya dengan perasaan cinta dan rindu. Dalam shalatnya selalu ia ucapkan Allahu Akbar, Alhamdulillah, Subhanallah, Lâ Ilâha Illallâh (Allah Maha Agung, Segala puji milik Allah, Maha Suci Allah, Tiada Tuhan yang Hak selain Allah), semuanya dilakukan tanpa melihat Allah, tidak tahu bagaimana zat-Nya, hanya karena cinta kepada-Nya dan rindu untuk bertemu dengan-Nya. Lalu di akhirat diberikan kesempatan untuk melihat-Nya, tanpa ada penghalang sebagaimana manusia melihat bulan di saat purnama, sungguh merupakan kebahagiaan yang tiada taranya. Segala kenikmatan yang didapatkan di surga pun terasa tidak seberapa bila dibandingkan kenikmatan melihat Allah.
Perhatikanlah hadits di atas, para ahli surga berkata: “Bukankah Engkau telah memutihkan wajah-wajah kami? Bukankah Engkau telah memasukkan kami ke dalam surga dan menyelamatkan kami dari neraka? Putihnya wajah ahli surga dinyatakan dalam firman-Nya:

وَأَمَّا الَّذِينَ ابْيَضَّتْ وُجُوهُهُمْ فَفِي رَحْمَةِ اللَّهِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ  [آل عمران : 107]

“Adapun orang-orang yang putih mukanya, maka mereka berada dalam rahmat Allah (surga); mereka kekal di dalamnya.”
Wajah yang putih menandakan kebahagiaan dan kegembiraan karena bisa masuk surta, namun wajah yang berseri-seri tentunya menandakan kebahagiaan dan kegembiraan yang lebih, karena bisa melihat Allah.
Hadirin jama’ah Jum’at rahimakumullah!
Bertemu dengan Allah dan melihat Wajah-Nya adalah sebuah cita-cita seorang Mu’min. Namun cita-cita itu tidak akan terwujud tanpa usaha dan kerja keras, di samping cara yang benar untuk meraihnya.
Lantas, apa kiat-kiat yang yang harus kita lakukan untuk mewujudkan cita-cita itu? Dalam Al-Qur’an Allah I memberikan kepada kita resep yang mujarab untuk bertemu dengan-Nya dan melihat wajah-Nya, Allah I berfirman:

قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يُوحَى إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا [الكهف : 110]

“Katakanlah: Sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: “Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan yang Esa.” Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya.”
Ayat ini memberikan kepada kita resep yang mujarab untuk bertemu dengan Allah dan melihat Wajah-Nya, Pertama, Beribadah hanya kepada Allah dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun. Kedua, beramal yang saleh, yaitu amal yang sesuai dengan tuntunan dan petunjuk Rasulullah r. Bukan amal yang diwariskan oleh nenek moyang, bukan pula amal yang lahir dari adat dan kebiasaan.
Mudah-mudahan kita bisa menerima dan melaksanakan resep dari Allah ini, sehingga kita termasuk orang-orang yang diberi kesempatan untuk bertemu dengan Allah dan melihat Wajah-Nya. Amin.

أقول قولي هذا و أستغفر الله لي و لكم. و استغفروه إنه هو الغفور الرحيم.


Khutbah Kedua

الحمد لله رب العالمين، والعاقبة للمتقين، ولا عدوان إلا على الظالمين، وأشهد أن لا إله إلاالله وحده لا شريك له رب العالمين، وإله المرسلين، وقيوم السموات والأرضين، وأشهد أن محمدا عبده ورسوله المبعوث بالكتاب المبين، الفارق بين الهدى والضلال والغي والرشاد والشك واليقين.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ.

أما بعد:

Hadirin jama’ah Jum’at rahimakumullah!
Pelajaran ketiga dari hadits adalah sabda Rasulullah r

َإِنِ اسْتَطَعْتُمْ أَنْ لاَ تُغْلَبُوا عَلَى صَلاَةٍ قَبْلَ طُلُوعِ الشَّمْسِ وَقَبْلَ غُرُوبِهَا”

“Maka kalian jangan lengah sehingga meninggalkan shalat sebelum terbit dan terbenam matahari.”
Jarir t mengatakan bahwa kedua shalat yang dimaksud tersebut adalah shalat shubuh dan shalat ashar.
Rasulullah r mengajarkan kepada kita bahwa di antara usaha untuk bertemu dengan Allah dan melihat Wajah-Nya adalah dengan cara menjaga shalat shubuh dan ashar. Ini tidak berarti shalat-shalat yang lain tidak penting. Semua penting dan harus dilaksanakan oleh orang Mu’min, hanya saja shalat shubuh dan ashar memiliki keistimewaan. Allah I berfirman:

“حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ وَالصَّلَاةِ الْوُسْطَى وَقُومُوا لِلَّهِ قَانِتِينَ “ [البقرة : 238]

“Peliharalah semua shalat(mu), dan (peliharalah) shalat wusthaa. Berdirilah untuk Allah (dalam shalatmu) dengan khusyu’.”
Tentang rahasia keistimewaan shalat shubuh dan ashar, al-Hafizh Ibnu Hajar mengatakan bahwa kedua waktu tersebut adalah waktu berkumpulnya para malaikat dan mengangkat amal manusia.
Hadirin jama’ah Jum’at rahimakumuullah!
Inilah pelajaran dan hikmah yang bisa kita ambil dari hadits yang agung tadi, semoga kita diberikan hidayah dan taufiq oleh Allah I untuk selalu teguh dan mantap di atas jalan-Nya, menjalankan Al-Qur’an dan Sunnah Rasul sesuai pemahaman para sahabat dan orang-orang yang mengikutinya, agar kita mendapatkan ni’mat bertemu dengan Allah I dan melihat Wajah-Nya. Amin.

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ.

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ

رَبَّنَا أَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْرًا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

و صلى الله على محمد و على آله و صحبه و سلم. و آخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين.