Manhajiyah

Sudah benarkah manhaj Anda dalam beragama? Di sini diketengahkan pembahasan tentang manhaj yang diambil dari kitab Al-Mukhtashar al-Hatsis karya Syekh ‘Isa Malullah Farj

MENINGGALKAN ILMU KALAM DAN TA'WIL

MENINGGALKAN ILMU KALAM DAN TA’WIL[1]

Berpaling dari Al-Qur’an dan menta’wil dengan dasar ilmu kalam adalah penyebab terbesar terjadinya kesesatan, terutama dalam masalah akidah.
A. BERPALING DARI AL-QUR’AN
Maksudnya enggan mentadabburi Al-Qur’an dan As-Sunnah Rasulullah r, dan menyibukkan diri dengan filsafat orang-orang Yunani dan logika yang bermacam-macam. Dalam hal ini Allah I berfirman:

كَذَلِكَ نَقُصُّ عَلَيْكَ مِنْ أَنبَاء مَا قَدْ سَبَقَ وَقَدْ آتَيْنَاكَ مِن لَّدُنَّا ذِكْراً. مَنْ أَعْرَضَ عَنْهُ فَإِنَّهُ يَحْمِلُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وِزْراً. خَالِدِينَ فِيهِ وَسَاء لَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حِمْلاً

“Demikianlah kami kisahkan kepadamu (Muhammad) sebagian kisah umat yang Telah lalu, dan Sesungguhnya telah kami berikan kepadamu dari sisi kami suatu peringatan (Al-Quran). Barangsiapa berpaling dari pada Al-Qur’an Maka Sesungguhnya ia akan memikul dosa yang besar di hari kiamat. Mereka kekal di dalam keadaan itu. dan amat buruklah dosa itu sebagai beban bagi mereka di hari kiamat”. (Q.S. Thaa Haa: 99-101) …

BERIMAN KEPADA MUTASYAABIH DAN BERAMAL DENGAN MUHKAM

BERIMAN KEPADA MUTASYAABIH DAN BERAMAL DENGAN MUHKAM[1]

Makna Muhkam Secara Etimologis[2]
Secara etimologis, Muhkam mempunyai dua arti: Pertama, menahan dan mengembalikan. Orang Arab mengatakan: حَكَمْتُ, أَحْكَمْتُ dan حَكَّمْتُ. Dari itu dibentuk kata حَاكِم artinya orang yang menahan kezaliman orang yang zalim.
Kedua, menyempurnakan. Orang yang menguasai satu keahlian dengan sempurna disebut حَكِيم. Dari itu pula kata الحُكْم diartikan ilmu dan pemahaman,[3] sebagaimana dalam firman Allah I:

يَا يَحْيَى خُذِ الْكِتَابَ بِقُوَّةٍ وَآتَيْنَاهُ الْحُكْمَ صَبِيّاً

“Hai Yahya, ambillah Al Kitab (Taurat) itu dengan sungguh-sungguh. dan kami berikan kepadanya ilmu selagi ia masih kanak-kanak”. (Q.S. Maryam: 12) …

MENGUMPULKAN SEMUA DALIL DALAM SATU MASALAH

MENGUMPULKAN SEMUA DALIL DALAM SATU MASALAH[1]
Mengumpulkan semua dalil dalam satu masalah diperlukan oleh seorang peneliti, baik dalam masalah akidah maupun masalah hukum, terutama bila tampak ada pertentangan di antara dalil-dalil yang ada. Yang demikian ini akan memberikan gambaran menyeluruh tentang masalah sehingga tidak tampak lagi pertentangan di antara dalil, bahkan satu sama lain saling menguatkan.
Tidak Ada Pertentangan Hakiki antara Dalil-dalil Syar’i.
Hendaknya diketahui bahwa dalil-dalil syar’i selamanya tidak akan bertentangan. Adapun pertentangan yang nampak pada dalil-dalil dari Al-Qur’an dan As-Sunnah bagi sebagian orang, sebenarnya adalah pertentangan yang nisbi sesuai dengan pemahaman orang perorang, padahal yang sebenarnya pertentangan itu tidak ada. …