Ibrah

Manfaat Berganda dari Do’a untuk Baginda

Oleh: Buldan Taufik Muhammad Fatah

 

Suatu hari Umar bin Khattab radhiallâhu ‘anhu hendak pergi umrah, ia berpamitan terlebih dahulu kepada baginda Nabi Muhammad shallallâhu ‘alaihi wasallam. Nabi lantas berpesan kepadanya, “Wahai saudaraku, jangan lupakan aku dalam do’a-do’amu!” (hr. Tirmidzi)

Nabi Muhammad shallallâhu ‘alaihi wasallam meminta kepada seorang shahabat –yang natabene lebih rendah kedudukannya daripada beliau– untuk mendo’akannya. Hal ini tiada lain menunjukkan kerendahhatian Sang Nabi, dan di sisi lain umat pun diajarkan untuk tidak lupa terhadap pemimpinnya walau hanya dengan sebuah do’a.

“Do’a adalah ibadah yang paling utama.” Demikian sabda Nabi dalam hadits riwayat Al-Hakim dengan sanad hasan. Keutamaan do’a ini –sebagaimana  disebutkan oleh Syaikh Abdur Razzaq bin Abdul Muhsin Al-Badr dalam kitab Fiqh al-Ad’iyah wa al-Adzkar– dikarenakan beberapa hal, di antaranya;

  1. Do’a merupakan manifestasi ketundukkan dan pengakuan akan kelemahan diri di hadapan Allah Subhânahu wa Ta’âlâ.
  2. Do’a merupakan ibadah yang membawa seorang hamba kepada kekhusyuan, karena rasa butuhnya terhadap Allah menuntut demikian.
  3. Do’a menunjukkan sikap penyerahan diri kepada Allah dan pemercayaan penuh terhadap-Nya sebagai Dzat yang maha mampu memberikan apa yang diinginkan dan mencegah apa yang tak disukai.

Berdo’a kepada Allah seyogyanya tak hanya diperuntukkan untuk kebaikan diri sendiri, tapi juga kebaikan orang lain, hal ini sudah merupakan tuntutan ukhuwwah Islamiyah. Istimewanya, sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits: “Do’a yang paling cepat dikabulkan [oleh Allah] adalah do’a seseorang untuk orang lain di kala ketiadaan mereka.” (hr.  Abu Dawud).

Para malaikat pun mengamini orang yang berdo’a untuk kebaikan saudaranya seraya berkata, “Semoga engkau pun memperoleh kebaikan yang sama dengan apa yang engkau minta untuk saudaramu itu.” (hr. Muslim).

Lebih utama lagi, apabila yang dido’akan itu adalah para pemimpin umat. Sebab, peran mereka untuk kemaslahatan orang banyak begitu strategis, sementara beban yang harus dipikul di pundak mereka sedemikian beratnya. Keluh kesah dan caci maki terhadap pemimpin yang tak kita sukai tingkah polah dan track record-nya, tidaklah berguna merubah keadaan menjadi lebih baik. Mendo’akan mereka adalah seutama-utamanya pilihan yang kerapkali luput dari lintasan pikiran.

Perhatikan perkataan seorang salaf, Al-Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah, “Seandainya aku mempunyai do’a terbaik yang akan dikabulkan Allah, maka semuanya akan aku tujukan untuk kebaikan para pemimpin. Apabila do’a itu hanya untuk diriku sendiri, maka manfaatnya hanya untuk diriku saja, namun apabila kutujukan untuk para pemimpin, lalu mereka menjadi baik, maka negara dan rakyat semuanya akan merasakan manfaat dan kebaikannya.” (riwayat Abu Nu’aim dalam kitab Al-Hilyah)

“Jangan lupakan aku dalam do’a-do’amu!” Itu pesan dan harapan baginda Nabi dari seorang rakyat bernama Umar. Tak mustahil, do’a itu pula yang menjadi angan para pemimpin saat ini dari segenap rakyatnya. Sungguh, di sana ada manfaat berganda di kala kita mendo’akan para baginda (baca: para pemimpin).  Wallahu a’lam

Bencana…!! Banyak Berilmu Namun Tanpa Amal

(dikutip dari buku : DARI MADINAH HINGGA KE RADIORODJA; Mendulang Pelajaran Akhlak dari Syaikh Abdurrozzaq Al-Badr, hafizhahullah)

Oleh: Abu Abdil Muhsin Firanda

Mengenai Syaikh Abdurrozzaq, sebagaimana pengakuan sebagian teman yang pernah dekat dengan beliau, bahwasanya beliau bukanlah orang yang paling ‘alim di kota Madinah, bahkan bukan pula orang yang paling ‘alim di Universitas Islam Madinah, karena pada kenyataannya masih banyak ulama lain lebih unggul daripada beliau dari sisi keilmuan. Akan tetapi yang menjadikan beliau istimewa di hati para mahasiswa adalah perhatian beliau terhadap amal, takwa, dan akhlak. Hal ini tidak mengherankan karena seringkali wejangan-wejangan beliau tentang perhatian pada mengamalkan ilmu.
Selama kurang lebih 9 tahun, beliau mengajar sebuah kitab tentang adab karya Imam Al-Bukhari yang berjudul Al-Adab Al-Mufrad di masjid Universitas Islam Madinah, setiap hari Kamis setelah shalat Shubuh. Selama tiga tahun beliau mengajar kitab yang sama di Masjid Nabawi. Ini semua menunjukkan perhatian beliau terhadap adab dan akhlak mulia. Bahkan, saat beliau mengisi di Radiorodja dan waktu itu tidak ada materi yang siap untuk disampaikan, serta kebetulan salah seorang pembawa acara ingin ada pengajian khusus tentang tanya jawab dengan diberi sedikit mukadimah, maka beliau langsung setuju, dan mukadimah yang beliau bawakan adalah tentang pentingnya mengamalkan ilmu.
Orang yang Tidak Shalat Shubuh Berjamaah Bukanlah Penuntut Ilmu
Syaikh Abdurrozaq pernah mengunjungi suatu kampung yang terkenal memiliki banyak penuntut  ilmu. Maka beliau pun shalat di masjid tersebut. Di sana, beliau bertemu seorang kakek, lantas beliau berkata seraya memberi kabar gembira kepada sang Kakek, “Masya Allah, kampung Kakek banyak sekali penuntut ilmu.”
Tapi, sang Kakek malah menimpali dengan perkataan sinis, “Tidak ada tullabul ‘ilm (para penuntut ilmu) di kampung ini. Sebab, orang yang tidak shalat shubuh berjamaah bukan penuntut ilmu!”
Syaikh Abdurrozaq tertegun mendengar kalimat sang Kakek. Rupanya benar, banyak penuntut ilmu di kampung tersebut tidak menghadiri shalat shubuh berjamaah. Syaikh pun membenarkan perkataan sang Kakek, “Anda benar, bahwa ilmu itu untuk diamalkan. Bahkan bisa jadi kita mendapatkan seorang penuntut ilmu semalam suntuk membahas tentang hadits-hadits Nabi yang menunjukkan keutamaan shalat Shubuh secara berjamaah, bahkan bisa jadi dia menghafalkan hadits-hadits tersebut di luar kepalanya. Akan tetapi tatkala tiba waktu mengamalkan hadits-hadits yang dihafalkannya itu, dia tidak mengamalkannya, malah ketiduran, tidak shalat shubuh berjamaah.”
Memang benar bahwasanya tujuan dari menuntut ilmu adalah untuk diamalkan. Rasulullah saw. bersabda:

القُرْآنُ حُجَّةٌ لَكَ أَوْ عَلَيْكَ

Al-Quran akan menjadi hujjah (yang akan membela) engkau atau akan menjadi bumerang yang akan menyerangmu. (HR Muslim no 223)
Saya teringat nasihat Syaikh Utsaimin yang disampaikan di hadapan para mahasiswa Universitas Islam Madinah, bahwasanya ilmu itu hanya akan memberi dua pilihan, dan tidak ada pilihan ketiga, yaitu: [1] menjadi pembela bagi pemiliknya atau [2] akan menyerangnya pada hari kiamat jika tidak diamalkan.
Oleh karena itu, hendaknya seseorang tidak menuntut ilmu hanya untuk menambah wawasannya, tetapi dengan niat untuk diamalkan agar tidak menjadi bumerang yang akan menyerangnya pada hari kiamat kelak.
Marilah kita renungkan…!

Sudah berapa lama kita ikut pengajian?

Sudah berapa kitab yang kita baca?
Sudah berapa muhadhorah yang kita dengarkan?
Sungguh suatu kenikmatan ketika seseorang bisa aktif ikut pengajian, akan tetapi apakah kita siap untuk menjawab pertanyaan yang pasti akan ditanyakan kepada kita semua, sebagaimana yang dikabarkan Nabi saw.:

وعَنْ عِلْمِهِ, مَاذَا عَمِلَ فِيهِ؟

“Dia akan ditanyakan tentang ilmunya, apa yang telah diamalkan dari ilmunya?”

Syaikh Abdurrozzaq menjelaskan bahwa seseorang yang telah banyak mengumpulkan ilmu lantas tidak diamalkan maka hal ini menunjukkan ada niatnya yang tidak beres. Sungguh menyedihkan jika kita, ahlus sunah, yang seharusnya memberi perhatian besar terhadap ilmu akidah, baik penanaman akidah maupun pembenahan akidah-akidah yang menyimpang di masyarakat, namun ilmu akidah tidak tercermin pada amalan shalih kita.
Syaikh Abdurrozzaq berkata: “Aku ingin mengingatkan sebuah perkara yang terkadang kita melalaikannya tatkala kita mempelajari ilmu aqidah. Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata:

كُلُّ عِلْمٍ وَعَمَلٍ لاَ يَزِيْدُ الإِيمَانَ واليَقِيْنَ قُوَّةً فَمَدْخُوْلٌ، وَكُلُّ إِيمَانٍ لاَ يَبْعَثُ عَلَى الْعَمَلِ فَمَدْخُوْلٌ

Setiap ilmu dan amal yang tidak menambah kekuatan dalam keimanan dan keyakinan maka telah termasuki (terkontaminasi), dan setiap iman yang tidak mendorong untuk beramal maka telah termasuki (tercoreng).( Al Fawaid 86)

Maksud “telah termasuki” dari perkataan Ibnul Qoyyim  yaitu telah termasuki sesuatu; baik riya, tujuan duniawi, atau yang semisalnya, maka ilmu tersebut tidak akan bermanfaat dan tidak akan diberkahi. Oleh karena itu, niat yang baik merupakan perkara yang harus, baik dalam mempelajari akidah ataupun ilmu agama yang lain secara umum.
Jika seseorang mempelajari ilmu akidah hendaknya dia tidak mempelajarinya sekadar menambah telaah dan memperbanyak wawasan, tetapi hendaknya karena akidah merupakan bagian dari agama Allah yang diperintahkan Allah kepada para hamba-Nya, serta menyeru mereka kepada-Nya dan menciptakan mereka karena akidah dan dalam rangka merealisasikannya. Maka hendaknya ia berijtihad (berusaha keras) untuk memahami dalil-dalilnya dan ber-taqarrub kepada Allah dengan mengimaninya dan menanamkannya dalam hatinya. Jika dia mempelajari akidah dengan niat seperti ini maka akan memberikan buah yang sangat besar, dan akan memengaruhinya dalam perbaikan sikap, amal, dan akhlak dalam seluruh kehidupannya.
Jika seseorang mempelajari akidah hanya untuk jidal dan perdebatan, dengan tanpa memerhatikan sisi penyucian jiwa dengan keimanan, keyakinan, serta rasa tenang dengan akidah tersebut, maka tidak akan membuahkan hasil apa-apa.
Di antara contoh tentang perkara ini — yang berkaitan dengan iman kepada melihat Allah di akhirat kelak — sabda Nabi saw:

إِنَّكُمْ سَتَرَوْنَ رَبَّكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ كَمَا تَرَوْنَ الْقَمَرَ ، لاَ تُضَامُونَ ـ وفي رواية:”لا تُضارُّون”، وفي رواية:”لا تُضَامُّون”ـ في رؤيته، فَإِنِ اسْتَطَعْتُمْ أَلاَّ تُغْلَبُوْا عَلَى صَلاَةٍ قَبْلَ طُلُوْعِ الشَّمْسِ وّقَبْلَ غُرُوْبِهَا فَافْعَلُوا ، ثُمَّ قَرَأَ: وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ قَبْلَ طُلُوعِ الشَّمْسِ وَقَبْلَ الْغُرُوبِ

Sesungguhnya kalian akan melihat Rabb kalian pada hari kiamat sebagaimana kalian melihat bulan. Kalian tidak akan tertutupi oleh awan, (dalam riwayat yang lain: kalian tidak akan saling mencelakakan;  dalam riwayat yang lain: kalian tidak akan saling berdesak-desakan), maka jika kalian mampu melaksanakan shalat sebelum terbit matahari dan sebelum terbenam matahari maka lakukanlah.”
Kemudian Nabi membaca firman Allah:

وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ قَبْلَ طُلُوعِ الشَّمْسِ وَقَبْلَ الْغُرُوبِ

Dan bertasbihlah sambil memuji Tuhanmu sebelum terbit matahari dan sebelum terbenam(nya). (Q.S. Qaf: 39 )
Maksud Nabi adalah shalat Shubuh dan shalat Asar.
Perhatikanlah keterkaitan antara akidah dan amal. Nabi menyebutkan kepada para sahabat perkara akidah, yaitu beriman kepada melihat Allah. Lalu Nabi menyebutkan kepada mereka tentang amal yang merupakan buah dari akidah yang benar, maka Nabi berkata kepada mereka: “Jika kalian mampu untuk tidak terluputkan….”
Jika ada seseorang mempelajari hadits-hadits tentang iman kepada melihat Allah, lantas meneliti jalan hadits serta sanad-sanadnya, lalu dia mendebat para ahlul kalam dan membantah syubhat-syubhat seputar hal ini, kemudian ternyata dia begadang dan akhirnya meninggalkan shalat Shubuh, bisa jadi shalat Shubuh tersebut tidak ada nilainya di sisi-Nya. Sang muadzin telah mengumandangkan adzan untuk shalat, “As-Shalatu khairun minan naum,” (Shalat itu lebih baik dari pada tidur) namun kondisinya menunjukkan seakan-akan dia berkata, “Tidur lebih baik daripada shalat.” Maka, mana pengaruh akidah pada sikapnya?
Kita mohon kepada Allah keselamatan.
Orang seperti ini perlu memperbaiki niat dan tujuannya dalam mempelajari akidah agar bisa membuahkan hasil yang diharapkan, maka terwujudkanlah pengaruh yang baik yang barakah baginya. Seorang muslim semestinya mempelajari akidah karena itu adalah akidah dan agamanya yang Allah telah memerintahkan dia untuk mengamalkannya. Dan hendaknya dia bersungguh-sungguh agar ilmu akidahnya tersebut bisa memberi pengaruh pada diri, ibadah, dan taqarrub-nya kepada Allah.” (Tadzkiratul Mu’tasi Syarh Akidah, Al-Hafizh Abdul Ghaniy Al-Maqdisi; hal 21-22)
Marilah kita bercermin dan menginstropeksi diri kita, apakah dengan semakin bertambahnya ilmu kita demikian juga bertambah amalan kita? Ataukah bertambahnya ilmu justru membuat kita semakin malas dalam beramal? Bukankah kita masih ingat, di awal-awal mengenal pengajian, semangat kita begitu besar dalam menjalankan sunah-sunah Nabi, akan tetapi kenapa ada sebagian dari kita dengan semakin bertambahnya ilmu justru semakin sedikit beramal? Bahkan, ada pula sebagian kita setelah mengetahui beberapa amalan hukumnya sunah (mustahab) dan tidak wajib, malah terdorong untuk meninggalkan amalan tersebut. Bertambahnya ilmu justru mengantarkannya untuk meninggalkan amalan. Bukankah bisa jadi karena terbiasa meninggalkan amalan-amalan sunah akhirnya perkara-perkara yang wajib pun bisa ditinggalkan?
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah pernah berkata:

وَإِذَا أَصَرَّ عَلَى تَرْكِ مَا أُمِرَ بِهِ مِنْ السُّنَّةِ وَفِعْلِ مَا نُهِيَ عَنْهُ فَقَدْ يُعَاقَبُ بِسَلْبِ فِعْلِ الْوَاجِبَاتِ حَتَّى قَدْ يَصِيرُ فَاسِقًا أَوْ دَاعِيًا إلَى بِدْعَةٍ

“Seseorang jika terus meninggalkan sunah yang diperintahkan dan melakukan perkara yang terlarang maka bisa jadi dia dihukum (oleh Allah) dengan meninggalkan hal-hal yang wajib, hingga akhirnya bisa jadi ia menjadi orang fasik atau orang yang menyeru kepada bid’ah.” (Majmu’ Al-Fatawa 22/306)
Marilah kita cek hati dan ketakwaan kita, apakah dengan bertambah ilmu setelah sekian tahun ikut pengajian, maka ketakwaan dan keimanan kita semakin berkobar, ataukah malah semakin kendor? Jika ternyata kita semakin malas beramal dan semakin lemah iman kita maka ingatlah nasihat Syaikh Abdurrozzaq tadi bahwasanya niat kita selama ini ternyata terkontaminasi dan ternodai dengan penyakit-penyakit hati; baik riya, ujub, atau tujuan-tujuan duniawi lainnya.
Allahul musta’an.
Ilmu adalah Pohon, dan Amal adalah Buahnya
Para pembaca yang budiman, tahukah Anda bahwa ilmu bukanlah ibadah yang independen? Ilmu hanya disebut ibadah dan terpuji apabila ilmu tersebut membuahkan amalan. Jika ilmu tidak membuahkan amal maka jadilah tercela dan akan menyerang pemiliknya. Hal ini dijelaskan dengan tegas oleh Al-Imam Asy-Syathibi dalam kitabnya yang luar biasa Al-Muwafaqat. Beliau berkata:

أَنَّ كُلَّ عِلْمٍ لا يُفيد عَمَلاً؛ فَلَيْسَ فِي الشَّرعِ مَا يَدُلُّ عَلَى استِحسَانِه

“Semua ilmu yang tidak membuahkan amal maka tidak dalam syariat satu dalil pun yang menunjukkan akan baiknya ilmu tersebut.” (Al-Muwafaqat 1/74)
Oleh karena itu, semua dalil yang berkaitan dengan keutamaan ilmu dan penuntut ilmu semuanya harus dibawakan kepada ilmu yang disertai dengan amal.
Firman Allah:

قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لا يَعْلَمُونَ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الألْبَابِ (٩)

“Katakanlah: ‘Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sesungguhnya orang yang berakal-lah yang dapat menerima pelajaran. (Q.S. Az-Zumar: 9)

شَهِدَ اللَّهُ أَنَّهُ لا إِلَهَ إِلا هُوَ وَالْمَلائِكَةُ وَأُولُو الْعِلْمِ قَائِمًا بِالْقِسْطِ لا إِلَهَ إِلا هُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ (١٨)

Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), yang menegakkan keadilan. Para malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu), tak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana. (Q.S. Ali Imran: 18)

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ
Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. (Q.S. Al-Mujadalah: 11)
Demikian juga semisal hadits Nabi saw.:

من يُرِدِ اللهُ به خيرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّيْنِ


Barang siapa yang Allah kehendaki kebaikan baginya maka Allah akan membuat dia faqih (paham) tentang ilmu agama.

Maksudnya adalah orang yang dikendaki kebaikan oleh Allah adalah orang yang diberi ilmu dan mengamalkan ilmunya. Adapun orang yang berilmu dan tidak mengamalkan ilmu maka tercela, karena jelas ilmunya akan menjadi bumerang baginya.
Asy-Syathibi rahimahullah membawakan banyak dalil yang menunjukkan akan hal itu. Beliau berkata: “Sesungguhnya ruh ilmu adalah amal. Jika ada ilmu tanpa amal maka ilmu tersebut kosong dan tidak bermanfaat. Allah telah berfirman:

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ


Sesungguhnya yang takut kepada Allah adalah para ulama.
(Q.S. Fathir: 28)
Dan Allah juga berfirman:

وَإِنَّهُ لَذُو عِلْمٍ لِمَا عَلَّمْنَاهُ

Dan Sesungguhnya Dia mempunyai pengetahuan, karena Kami telah mengajarkan kepadanya. (Q.S. Yusuf: 68)
Qatadah berkata: “Maksudnya adalah لَذُو عَمَلٍ بِمَا عَلَّمْنَا  dia mengamalkan ilmu yang Kami ajarkan kepadanya…” (Al-Muwafaqat 1/75).
Dan yang paling menunjukkan akan hal ini adalah hadits Nabi saw:

لاَ تَزُوْلُ قَدَمَا الْعَبْدِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتىَّ يُسأَلَ عَنْ خَمْسِ خِصَالٍ”،

“Tidak akan bergerak kedua kaki seorang hamba pada hari kiamat sampai ditanya tentang lima perkara.” Di antara lima perkara tersebut yang disebutkan oleh Nabi saw.: وعَنْ عِلْمِهِ, مَاذَا عَمِلَ فِيهِ؟ “ Dia akan ditanyakan tentang ilmunya, apa yang telah diamalkan dari ilmunya?”
Pernah ada seseorang yang bertanya (masalah agama) kepada Abu Ad-Darda’, maka Abu Ad-Darda’ berkata kepadanya: “Apakah semua masalah agama yang kau tanyakan kau amalkan?” Orang itu menjawab: “Tidak.” Maka Abu Ad-Darda’ menimpalinya: “Apa yang engkau lakukan dengan menambah hujjah yang akan menjadi bumerang bagimu?” (Al-Muwaafaqaat 1/82 sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Abdil-Bar dalam Al-Jami’ no 1232).
Oleh karena itu, sungguh indah kesimpulan yang disampaikan oleh Asy-Syathibi dalam perkataannya: “Dan dalil akan hal ini (bahwasanya ilmu hanyalah wasilah untuk amal dan bukan tujuan) terlalu banyak. Semuanya memperkuat bahwa ilmu merupakan sebuah wasilah (sarana) dan bukan tujuan langsung jika ditinjau dari kacamata syariat. Akan tetapi, ilmu hanyalah wasilah untuk beramal. Maka semua dalil yang menunjukkan akan keutamaan ilmu hanyalah berlaku bagi ilmu yang disertai dengan amalan. Dan kesimpulannya bahwasanya seluruh ilmu syar’i tidaklah dituntut (dalam syariat) kecuali dari sisi sebagai sarana untuk mencapai sesuatu yaitu amal.” (Al-Muwafaqat 1/83-85)
Sungguh indahwasiat Al-Khathib al-Baghdadi kepada para penuntut ilmu:

إِنِّي مُوصِيكَ يَا طَالِبَ الْعِلْمِ بِإِخْلَاصِ النِّيَّةِ فِي طَلَبِهِ، وَإِجْهَادِ النَّفْسِ عَلَى الْعَمَلِ بِمُوجَبِهِ، فَإِنَّ الْعِلْمَ شَجَرَةٌ وَالْعَمَلَ ثَمَرَةٌ، وَلَيْسَ يُعَدُّ عَالِمًا مَنْ لَمْ يَكُنْ بِعِلْمِهِ عَامِلًا، … وَمَا شَيْءٌ أَضْعَفُ مِنْ عَالِمٍ تَرَكَ النَّاسُ عِلْمَهُ لِفَسَادِ طَرِيقَتِهِ ، وَجَاهِلٍ أَخَذَ النَّاسُ بِجَهْلِهِ لِنَظَرِهِمْ إِلَى عِبَادَتِهِ …

وَالْعِلْمُ يُرَادُ لِلْعَمَلِ كَمَا الْعَمَلُ يُرَادُ لِلنَّجَاةِ ، فَإِذَا كَانَ الْعَمَلُ قَاصِرًا عَنِ الْعِلْمِ، كَانَ الْعِلْمُ كَلًّا عَلَى الْعَالِمِ ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ عِلْمٍ عَادَ كَلًّا، وَأَوْرَثَ ذُلًّا، وَصَارَ فِي رَقَبَةِ صَاحِبِهِ غَلًّا ، قَالَ بَعْضُ الْحُكَمَاءِ: الْعِلْمُ خَادِمُ الْعَمَلِ، وَالْعَمَلُ غَايَةُ الْعِلْمِ
Aku memberi wasiat kepadamu wahai penuntut ilmu untuk mengikhlaskan niat dalam menuntut ilmu dan berusaha keras untuk mengamalkan konsekuensi ilmu. Sesungguhnya ilmu adalah pohon dan amal adalah buahnya. Seseorang tidak akan dianggap alim bila tidak mengamalkan ilmunya. Tidak ada yang lebih lemah dari kondisi seorang alim yang ditinggalkan ilmunya oleh masyarakat karena jalannya (yang kosong dari amal) dan seorang yang jahil yang diikuti kejahilannya oleh masyarakat karena melihat ibadahnya.”
Tujuan ilmu adalah amal, sebagaimana tujuan amal adalah keselamatan. Jika ilmu kosong dari amal maka ilmu itu akan menjadi beban (bumerang) bagi pemiliknya. Kita berlindung kepada Allah dari ilmu yang menjadi beban (bumerang) dan mendatangkan kehinaan, dan akhirnya menjadi belenggu di leher pemiliknya.
Sebagian ahli bijak berkata, “Ilmu adalah pembantu bagi amal, dan amal adalah puncak dari ilmu.” (Iqtidhaul Ilmi Al-’Amal 14-15)

Semangat Beramal Mengalahkan Kelelahan dan Kelemahan

Syaikh Abdurrozaq bercerita, “Suatu ketika aku pernah shalat Tarawih di Masjid Nabawi. Dulu, setiap malam bulan Ramadhan, para imam Masjid Nabawi membaca tiga juz dari Al-Quran dangan bacaan tartil. Berbeda dengan sekarang di mana para imam hanya membaca satu juz. Ketika itu, aku shalat dan ternyata di hadapanku ada seorang dari Indonesia yang juga ikut shalat malam. Yang menarik perhatianku, ternyata orang tersebut kakinya buntung satu. Tatkala berdiri dia hanya bertopang pada satu kakinya. Sungguh menakjubkan, kita yang memiliki dua kaki merasa kelelahan menunggu imam menyelesaikan bacaan tiga juz dalam sepuluh rakaat, sementara orang Indonesia ini meskipun hanya bertopang pada satu kaki tetapi semangatnya yang begitu luar biasa; sama sekali tidak bergeming selama shalat, tidak terjatuh atau tertatih-tatih. Keimanan yang luar bisa yang menjadikannya kuat untuk bertahan berjam-jam melaksanakan shalat Tarawih.”
Kisah yang luar biasa ini beberapa kali saya dengar dari Syaikh tatkala memotivasi murid-muridnya untuk semangat beramal. Timbul kebanggaan dalam diri saya mengetahui orang yang beliau contohkan itu berasal dari Indonesia, namun sekaligus timbul rasa malu dalam diri saya, mengapa saya tidak semangat beribadah seperti orang yang buntung tersebut?
Manhaj Nabi??!!
Suatu ketika saat Syaikh mengisi pengajian, ada orang yang bertanya kepada beliau, “Ya Syaikh, bagaimanakah manhaj Nabi?”
Pertanyaan ini unik karena diajukan saat santer-santernya fitnah tahdzir-mentahdzir di Arab Saudi, dan orang tersebut tentunya berniat baik ingin mengetahui bagaimanakah manhaj yang benar sehingga ia bisa berada di atas manhaj yang lurus sehingga selamat di tengah badai tahdzir dan fitnah. Namun, apa jawaban Syaikh?
Beliau berkata, “Manhaj Nabi sudah jelas dan diketahui. Nabi bangun tengah malam lantas shalat malam. Menjelang shubuh beliau bersahur, lalu beristighfar menunggu shubuh. Kemudian beliau shalat Shubuh berjamaah. Setelah itu beliau duduk di masjid, berdzikir hingga waktu syuruq, lalu shalat dua rakaat. Jika tiba waktu dhuha beliau shalat Dhuha, dan seterusnya. Beliau bersedekah, mengunjungi orang sakit, membantu orang yang kesusahan, menjamu tamu… dan seterusnya. Manhaj beliau ma’ruf.”
Demikian kira-kira jawaban beliau. Jawaban yang mengingatkan sebagian kita yang menyukai tahdzir-mentahdzir agar jangan lupa beramal. Jangan sampai kita yang mengaku di atas manhaj yang benar dan memberikan porsi yang besar terhadap manhaj, lantas lalai dari beramal shalih. Jangan sampai kita yang semangat mentahdzir kesalahan orang lain, ternyata orang yang kita tahdzir tersebut lebih perhatian terhadap amal daripada kita.
Saya teringat nasihat Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah terhadap orang yang suka mentahdzir tapi kurang suka beramal, sementara orang yang ditahdzir justru lebih semangat dalam beramal.
Ibnu Taimiyyah berkata, “Dan banyak orang-orang yang mengingkari bid’ah-bid’ah ibadah dan adat, engkau dapati mereka muqashir (kurang) dalam mengerjakan sunah-sunah dari hal yang berkaitan dengan ibadah, atau dalam ber-amar makruf, menyeru manusia untuk mengerjakan sunah-sunah tersebut (yang berkaitan dengan ibadah). Dan, mungkin saja keadaan mereka, yang mengingkari bid’ah namun tidak mengerjakan banyak sunah Nabi, justru lebih buruk dari keadaan orang yang melakukan ibadah yang bercampur dengan suatu kemakruhan (Maksud ibnu Taimiyyah dengan kemakruhan di sini adalah kebid’ahan sebagaimana sangat jelas dalam penjelasan beliau sebelumnya-pen). Bahkan, agama itu adalah amar makruf dan nahi mungkar, dan tidak bisa tegak salah satu dari keduanya kecuali jika bersama dengan yang lainnya. Maka tidaklah dilarang suatu kemungkaran kecuali diperintahkan suatu kemakrufan.” (Iqtidho’ As-Shirootil Mustaqiim II/126.)
Madinah, 19 04 1432 H / 24 03 2011 M
Abu Abdilmuhsin Firanda
www.firanda.com

Ternyata… Kita MENANG dalam PERANG UHUD

Bismillah… Segala puji bagi Alloh, sholawat dan salam semoga tercurahkan atas Rasululloh, beserta keluarga, para sahabat dan para pembelanya, amma ba’du:
(Langsung saja), kami akan menghadirkan kemenangan-kemenangan tersebut dalam poin-poin berikut ini:
Sebab peperangan:
Alloh mengutus Nabi kita Muhammad -shollallohu alaihi wasallam-  pada masa-masa tidak adanya kenabian, masa-masa kehidupan dipenuhi oleh gelapnya kebodohan dan kelamnya kesesatan, maka mulailah Nabi -shollallohu alaihi wasallam-  bersama para sahabatnya -yang mulia- menyebarkan agama ini keseluruh penjuru dunia, mulai mendakwahi kaum kafir dan penentang kebenaran, serta mengangkat senjata untuk membela agama ini.
Kemudian bertemulah mereka di perang badar, dan (atas izin Alloh) terwujudlah kemenangan untuk kaum muslimin, sehingga berkibarlah bendera Islam. Sedang kaum musyrikin makkah, mereka pulang dengan kekalahan, sebagian menangisi korban yang tewas, sebagian lagi meratapi nasibnya, sungguh musibah besar telah melanda mereka.
Oleh karena itu, Kabilah Quraisy mempersiapkan kekuatan lagi untuk menghadapi kaum muslimin, waktu setahun habis untuk persiapan tersebut. Dan tibalah saatnya mereka mengumpulkan pasukan dan berangkat menuju madinah, yaitu pada bulan syawal, tahun ke-3 H, dengan agenda mengambil ganti rugi dari Perang Badar.
Mereka mengambil posisi di daerah Gunung Uhud, yaitu di pinggir lembahnya, sehingga banyak kaum muslimin yang menyayangkan hilangnya kesempatan untuk menempati posisi tersebut, dan mengusulkan kepada Nabi -shollallohu alaihi wasallam- untuk menyerang mereka.
Persiapan untuk perang:
Kaum muslimin telah bersiap-siap untuk keluar menyerang mereka. Usai sholat jum’at bersama para sahabatnya, Nabi -shollallohu alaihi wasallam- masuk rumahnya, kemudian keluar dalam keadaan  telah siap tempur dengan baju perangnya,  beliau bersabda: “tidak pantas bagi seorang Nabi, ketika telah mengangkat senjatanya, untuk menanggalkannya kembali, sehingga Alloh menghakimi antara dia dan musuhnya”.
Kemudian Nabi -shollallohu alaihi wasallam-  berangkat bersama seribu pasukannya. Ketika mereka sampai di tengah perjalanan antara Madinah dan lokasi gunung uhud, berpalinglah Abdulloh bin Ubay (dedengkotnya orang munafiq) bersama sepertiga pasukan muslimin. Mengetahui hal itu Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam- membiarkannya dan tetap meneruskan perjalanannya bersama sisa pasukan sampai di daerah gunung uhud, tepatnya di depan lembah gunung uhud. Menjadikan gunung uhud di belakang mereka, sehingga posisi pasukan musyrikin berada di antara pasukan muslimin dan kota madinah.
Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam- memerintahkan 50 pasukan pemanah yang dipimpin oleh Abdulloh bin Jubair untuk mengambil posisi di “bukit rummah”, dan memberikan komando agar mereka tetap menetap di sana, jangan sampai meninggalkan tempat tersebut, walaupun burung menyambar mereka. Rosul -shollallohu alaihi wasallam- bersabda: “bila kalian menyaksikan kami bertempur, maka jangan turun untuk ikut membantu kami! Sebaliknya bila kalian melihat kami mengambil ghonimah, maka jangan pula kalian turun untuk ikut mengambilnya!”
Pada sabtu pagi Nabi -shollallohu alaihi wasallam- bersiap untuk perang, beliau mengenakan baju perangnya dan memberikan aba-aba kepada para pemuda. Nabi -shollallohu alaihi wasallam- melarang mereka yang masih belum cukup umur untuk mengikuti perang, kecuali beberapa orang saja, diantaranya Samuroh bin Jundub dan Rofi’ bin Khudaij ra. Keduanya waktu itu  masih berumur 15 tahun.
Pasukan musyrikin juga mempersiapkan diri untuk perang, jumlah mereka 3000 personil, termasuk 200 pasukan berkuda yang dipimpin oleh Abu Sofyan. Yang mereka inginkan adalah padamnya cahaya ilahi dan menyesatkan umat manusia.
Sedangkan jumlah pasukan muslimin hanya 700 orang, target mereka adalah kemenangan atau mati syahid. Nabi -shollallohu alaihi wasallam- memberikan suntikan semangat tempur kepada para sahabatnya, dan menasehati mereka agar tetap sabar dan teguh.
Mulai perang:
Bertemulah dua pasukan tempur itu dan mereka saling mendekat, pedang-pedang dihunuskan, tombak-tombak diacungkan dan anak-anak panah siap diterbangkan. Dua kubu itu adalah kubu Alloh dan kubu setan.
Akhirnya Nabi -shollallohu alaihi wasallam-  mengijinkan untuk perang, dan mulailah dua kubu saling merapat, kedua pasukan mulai bertempur, dan perang pun mulai berkecamuk.  Pada saat itu pasukan muslimin mampu menguasai keadaan, dan Alloh menurunkan kemenangan kepada mereka, sehingga kaum musyrikin kalah, bendera-bendera mereka berjatuhan, dan akhirnya mereka terpukul mundur.
Ketika pasukan pemanah menyaksikan kekalahan pasukan musyrikin, mereka mengira pasukan musyrikin tidak akan kembali menyerang, sehingga sebagian besar dari mereka turun untuk mengambil ghonimah, meninggalkan posisi yang mereka diperintah oleh Rosul -shollallohu alaihi wasallam- untuk tetap mempertahankannya. Abdulloh bin Jubair sebagai pemimpin pasukan pemanah, berusaha memperingatkan mereka agar tetap berada pada posisi mereka, tetapi mereka tetap turun dan meninggalkan posisi tersebut.
Dari balik Bukit Rummah, Kholid bin Walid (yang pada saat itu masih musyrik) tak menyia-nyiakan kesempatan, Ia membunuh sisa-sisa pasukan pemanah yang masih tetap berada pada posisi mereka di atas bukit Rummah, sehingga posisi pasukan muslimin berada diantara pasukan musyrikin yang ada di belakang mereka, dan pasukan pejalan kaki -dari kaum muslimin sendiri- yang ada di depan mereka. Pasukan musyrikin mengepung pasukan muslimin. Akhirnya sebagian pasukan muslimin kalah, barisan mereka terpecah-pecah, bahkan terjadi saling membunuh diantara mereka sendiri –semoga Alloh meridhoi mereka-.
Pasukan musyrikin kembali mengibarkan bendera, sebaliknya barisan pasukan muslimin menjadi kacau-balau. Itulah takdir yang sudah menjadi kehendak Alloh swt, Ia memuliakan mereka dengan mati syahid.
Meskipun keadaan telah gawat, Nabi -shollallohu alaihi wasallam- tetap berada di posisinya, beliau memanggil sisa-sisa pasukannya sehingga sebagian mereka kembali bersama Nabi -shollallohu alaihi wasallam-.
Akhirnya pasukan musyrikin sampai kepada Nabi -shollallohu alaihi wasallam-, mereka ingin membunuhnya. Mereka telah melukai wajahnya, menjatuhkan gigi taringnya dengan batu, wajah beliau terkena pukulan dua perisai dan mereka berhasil meremukkan topi baja yang beliau kenakan.
Mereka melemparnya dengan batu dan mengenai pinggang beliau, akhirnya beliau pun jatuh di salah satu parit (yang digali oleh Abu Amir al-fasiq untuk menjebak kaum muslimin). Datanglah sahabat Ali ra. untuk menolong Nabi -shollallohu alaihi wasallam-, kemudian sahabat tholhah bin ubaidillah mendekap beliau, pada saat itulah mush’ab bin Umair gugur di hadapan Rosul -shollallohu alaihi wasallam-.
Kaum musyrikin akhirnya menemukan Rosul -shollallohu alaihi wasallam-, dan sekitar sepuluh sahabat langsung menghalau sampai mereka semua syahid. Kemudian Tholhah bin Ubaidillah maju melawan mereka, hingga berhasil menjauhkan mereka dari Rosul -shollallohu alaihi wasallam-, meskipun akhirnya tangannya cacat.
Selanjutnya Abu Dujanah melingkupkan badannya guna melindungi Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam- dengan punggungnya, serbuan panah yang banyak bersarang di punggungnya tak membuatnya bergeming demi melindungi Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam-. Pada saat itulah setan mengumumkan dengan suara sangat lantang bahwa Muhammad telah terbunuh, tentu saja berita tersebut dianggap benar oleh banyak pasukan muslimin, sehingga kebanyakan mereka lari meninggalkan peperangan, dan terjadilah apa yang telah ditakdirkan oleh Alloh swt.
Selanjutnya Rosul -shollallohu alaihi wasallam- menghampiri pasukan muslimin. Melihat beliau datang mereka langsung berkumpul menyambutnya, dan bergerak menapaki jalan diantara gunung yang mereka turuni, kemudian menyandarkan diri ke gunung.
Sahabat Ali bin Abi Tholib berusaha membersihkan darah dari wajah Nabi -shollallohu alaihi wasallam-  dengan menyiramkan air ke kepala beliau. Karena putri beliau Fatimah melihat air tersebut malah menyebabkan darah beliau semakin deras mengalir, maka ia mengambil sepotong kain yang sudah dibakar dan menempelkannya di tempat keluarnya darah, akhirnya darah berhenti mengalir.
Nabi -shollallohu alaihi wasallam-  berusaha memaksakan diri dengan sekuat tenaga untuk berjalan, dan pada saat hendak menaiki batu besar yang ada di sana beliau tidak kuat, maka duduklah tholhah dan mempersilahkan Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam- untuk naik di atasnya, dan mereka dikejutkan oleh banyaknya korban yang terlihat.
Akhir peperangan:
Kemudian Rosul -shollallohu alaihi wasallam-  turun melihat para syuhada, mereka telah dimutilasi dengan sangat kejam, beliau juga menghampiri pamannya Hamzah, beliau mendapatinya di lembah, perutnya terbelah, sedang hidung dan telinganya hilang.
Pasukan musyrikin akhirnya pulang menuju tempat peristirahatanya, dengan beberapa bagian tubuh yang sudah cacat dan nyawa-nyawa yang sudah di pucuk ubun-ubun. Semua peristiwa ini terjadi pada hari sabtu.
Dan berakhirlah peperangan itu dengan hasil akhir: 70 pahlawan syahid dari pasukan muslimin dan 22 korban binasa dari pasukan kafir, mayat-mayat kita di surga, sedang mayat-mayat mereka di neraka.
Pelajaran berharga dari peperangan ini:
Perang uhud adalah sebuah kemenangan bukan kekalahan, perang yang sarat dengan pelajaran dan nasehat. Peristiwa tersebut merupakan lembaran istimewa yang diwarisi oleh generasi-generasi setelahnya. Alloh menurunkan padanya 60 ayat di dalam kitab-Nya, yang mempunyai pengaruh yang sangat dalam di sanubari Nabi -shollallohu alaihi wasallam-, sehingga beliau terus mengenangnya hingga beliau mendekati ajalnya.
Keutamaan para sahabat:
Sesungguhnya agama ini sampai kepada kita dengan jerih payah para sahabat, dan para salaf kita telah banyak mengenyam pahitnya musibah dan cobaan demi kejayaan agama ini.
Sahabat Anas bin Nadhr, di dalam perang ini ia terkena lebih dari 80 tusukan, kemudian dimutilasi oleh musuh, sehingga tidak ada yang bisa mengenalinya kecuali saudara perempuannya, ia tahu saudaranya tersebut dari bentuk jari-jemarinya. Ditemukan pula pada jasad Sa’d bin Robi’ 70 tusukan. Maka (lihatlah diri kita)! apa yang telah kita sumbangkan untuk agama ini?.
Para sahabat yang mulia telah meraih keutamaan mendampingi Rosul -shollallohu alaihi wasallam-, keutamaan sebagai pendahulu pelaku kebaikan, dan keutamaan telah berpartisipasi untuk memperjuangkan agama ini. Diantara mereka ada yang menderita cacat tubuh, ada yang terkoyak jasadnya, dan ada pula yang menjadi janda karenanya. Mereka mengorbankan jiwa mereka untuk agama ini, sehingga sampai kepada kita dengan lengkap dan sempurna. Maka hargailah mereka dengan sepantasnya, syukurilah langkah mereka dan berdoalah untuk keridhoan mereka, karena tuhan telah mencintai mereka. (Semoga Alloh meridhoi mereka dan menjadikan mereka ridho kepada-Nya).
Bahaya kemaksiatan:
Dengan kemaksiatan akan berbalik roda kehidupan, dalam peperangan tersebut banyak jiwa yang melayang karena satu kesalahan, Nabi Adam keluar dari surga karena satu kemaksiatan, dan ada pula perempuan masuk neraka disebabkan karena perbuatannya kepada seekor kucing. Oleh sebab itu, teguhlah dalam ibadah dan ketaatan, karena itu akan menjadi penyelamat anda dari himpitan dan akan menjadi penolong anda dalam kesusahan. Janganlah jadikan amalan anda bumerang yang menjadikan musuh semakin mudah mengalahkan anda.
Pemuda dari generasi Sahabat:
Ikut dalam peperangan ini sahabat Samuroh dan Rofi’, waktu itu mereka berdua baru berumur 15 tahun. Dengan darah para pemuda sahabatlah agama ini bisa tegak, bukan dengan senda gurau, bukan pula dengan mengumbar syahwat. Para orang tua yang berusaha mendidik mereka, sehingga mereka memetik buah kebaikannya. Maka apa yang telah disumbangkan pemuda kita kepada agamanya? Apa tujuan mereka? Apa yang mereka cita-citakan? Apa yang mereka cari? Dan dengan apa mereka bergantung?
Jauhilah teman yang tidak baik, karena mereka akan menghinakan anda dalam segala keadaan, mereka akan menjadi teman ketika anda dalam kemudahan, dan akan menjadi musuh ketika anda dalam kesusahan. Lihatlah kaum munafiq yang telah menghianati para sahabat di saat-saat keadaan sangat genting.
Pilihlah teman hidup yang baik, karena mereka akan selalu menjaga anda, baik ketika anda ada dihadapannya maupun tidak. Untuk kebaikan anda, mereka berbuat, dan dari kejelekan, mereka berusaha agar anda selamat.
Masyarakat yang baik:
Al-haq telah banyak mengukir sejarah, sedang kebatilan telah banyak menorehkan noda, dan akhir yang baik hanyalah bagi mereka yang bertakwa. Maka dari itu, janganlah anda putus asa untuk memperbaiki masyarakat dan jangan pula anda pesimis dengan hidayahN-ya, karena Nabi -shollallohu alaihi wasallam- telah bersabar dengan gangguan dan siksaan sampai akhirnya manusia berbondong-bondong memasuki agama Alloh ini.
Sesungguhnya akhir dari segala sesuatu di tangan Alloh, maka titilah jalan dakwah, dan jangan lupa untuk terus berdoa, karena hidayah manusia adalah di tangan yang sang pencipta.
Abu sofyan, di perang uhud adalah pemimpin pasukan musyrikin, dan slogannya ketika itu “hidup berhala Hubal”, tetapi di peristiwa penaklukan kota makkah ia bersaksi: “laa ilaaha illallooh”. Wahsyiy, adalah pembunuh paman rosulululloh -shollallohu alaihi wasallam- Hamzah, tetapi kemudian masuk Islam, dan dialah yang menghabisi nyawa nabi palsu Musailimah al-Kadzdzab.
Oleh karenanya waspadalah dengan perubahan hati, karena hati seorang hamba itu berada di antara jari-jemari Ar-Rohman, Ia membolak-balikkannya kapan saja Ia kehendaki, maka mintalah selalu keteguhan hati.
Kewajiban bertaubat:
Meskipun seorang hamba berlumuran dosa, tetap saja taubat akan membersihkan noda, meskipun tumpukan dosa tersebut setinggi langit. “Kholid bin Walid”, seorang pahlawan kekufuran, telah gugur di tangannya banyak sahabat yang mulia, tetapi ketika Allah membukakan pintu hatinya, ia datang membaiat Nabi -shollallohu alaihi wasallam-  dan mengatakan: wahai Rosululloh! aku (bersedia masuk Islam) tapi dengan syarat, yaitu agar diampuni dosa-dosaku. Rosul -shollallohu alaihi wasallam- menjawab: “ya Kholid! belum tahukan kamu, bahwa islam menghapus semua kesalahan yang telah lalu, begitu pula taubat melebur segala dosa yang telah lampau?!”
Maka selamatkan diri anda dari jeratan dosa, dan menghadaplah kepada Tuhanmu dengan taubat nasuha, karena kebaikan akan menghapus kesalahan. Janganlah anda enggan untuk berpegang teguh dengan agama ini, karena telah banyak darah yang mengalir untuk memperjuangkannya.
Bersikap sabar dengan kerabat:
Kadang seseorang mendapatkan cobaan lewat kerabat dan sanak familinya, maka bersabarlah dengan sikap mereka yang tidak baik, lihatlah apa yang dilakukan kerabat Nabi -shollallohu alaihi wasallam-, mereka meninggalkan negara dan hartanya, datang ke madinah untuk membunuh Nabi -shollallohu alaihi wasallam- dan memutilasi para sahabatnya, perbuatan yang tidak dilakukan oleh kebanyakan kaum kafir yang lain, padahal mereka adalah darah dagingnya sendiri.
Meskipun demikian, pada saat penaklukan kota makkah beliau memaafkan dan menghalalkan mereka, beliau bersabda: “pergilah, karena kalian telah aku bebaskan”, maka ambillah teladan dari Nabi -shollallohu alaihi wasallam- dalam kearifan dan sifatnya yang pemaaf. Sambunglah tali silaturrahmi dan abaikan sikap buruk mereka terhadap anda, karena jerih payah kita akan sia-sia dengan adanya perselisihan dan pertengakaran, sebaliknya di dalam kerukunan dan kesepakatan terdapat jiwa yang jernih (mau menerima ajakan kebaikan).
Jauhilah perpecahan dan perbedaan pendapat, karena keduanya adalah kekalahan, Alloh berfirman (yang artinya):  “janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu” (al-anfal: 46).
Janganlah menyepelekan maksiat ketika anda sedang dalam kesenangan, karena bisa jadi manisnya kesenangan tersebut berganti dengan pahitnya kesedihan. Ambillah pelajaran dari para sahabat, ketika pasukan pemanah senang dengan ghonimah, sehingga mereka turun dari bukit rummah untuk mengumpulkan harta rampasan. Karena tindakan itulah mereka mengalami kekalahan. Dunia ini tidak akan tetap pada satu keadaan, maka jadilah anda orang yang penyabar dalam kesusahan, dan yang bersyukur ketika dalam kemudahan.
Kedudukan para Nabi:
Para nabi –alaihimus salam- adalah hamba dan makhluk Alloh, telah menimpa mereka apa yang  juga menimpa manusia biasa. Oleh karena itu, janganlah mengangkat mereka melebihi kedudukannya, dan jangan pula memposisikan mereka lebih rendah dari derajatnya. Lihatlah Nabi -shollallohu alaihi wasallam- ketika perang, beliau mengenakan baju perangnya, menggunakan senjatanya, para sahabat juga membantunya, bahkan Jibril dan Mikail pun ikut perang bersamanya. Meskipun begitu, beliau tetap terkena goresan di wajahnya dan tanggal pula gigi taringnya.
Selamanya segala urusan itu di tangan Allah, hanya Dialah yang bisa mendatangkan manfaat dan bahaya. Seandainya Nabi -shollallohu alaihi wasallam- berkuasa atas dirinya sendiri, tentulah tidak akan mengalir darah dari tubuhnya. Maka tujukanlah ibadah anda hanya kepada Al-jabbar, dan bersimpuhlah di hadapan Al-qohhar, niscaya –dengan izinnya- jalan yang luas akan terhampar.
Gunung Uhud:
Gunung Uhud bukanlah tempat untuk bertabarruk, tidak pula untuk diambil kerikilnya. Di tempat itu telah gugur 70 pasukan muslim, di sana pula Rosul -shollallohu alaihi wasallam- terluka. Seandainya tempat tersebut bisa memberikan manfaat, tentulah tidak akan terjadi musibah-musibah itu. Oleh karena itu serahkanlah semua urusanmu hanya kepada Alloh, dan kembalilah padanya ketika sedang dalam bencana.
Menghargai mereka yang memperjuangkan agama ini, adalah merupakan budi pekerti yang luhur, dan termasuk etika yang mulia adalah balas budi kepada mereka yang membantu kita, oleh karenanya darah para syuhada uhud tetap terkenang di sanubari Rosul -shollallohu alaihi wasallam- sampai pada tahun wafatnya beliau, dan beliau sholat untuk korban perang uhud, setelah 8 tahun dari kejadian tersebut sebagai tanda perpisahan, Alloh berfirman (yang artinya): (*) Demikianlah, apabila Allah menghendaki, niscaya Allah akan membinasakan mereka, tetapi Allah hendak menguji sebahagian kamu dengan sebahagian yang lain. Orang-orang yang syahid di jalan Allah, Ia tidak akan menyia-nyiakan amal mereka. (*)  Ia akan memberi petunjuk kepada mereka dan memperbaiki keadaan mereka (*) dan memasukkan mereka ke dalam jannah yang Telah diperkenalkan-Nya kepada mereka. (Surat Muhammad: 4-6)
Maka muliakan pahlawan-pahlawan agama ini, jagalah peninggalan mereka,  hormatilah mereka sebagai seorang sahabat, serta jagalah rahasia-rahasia mereka.
Abu sofyan berkata: “aku tidak pernah melihat, kecintaan seseorang kepada orang lain, seperti kecintaan para sahabat kepada Muhammad”.
Malapetaka:
Surga tidak akan diraih kecuali setelah melewati jembatan cobaan, melewati jalan yang panjang, jalan yang penuh dengan kesusahan dan malapetaka. Dalam cobaan (baik yang berupa kemenangan maupun kekalahan) terdapat perasaan rendah diri dan tunduk, yang merupakan sebab dari kemuliaan dan kemenangan. Dan apabila Alloh swt ingin memuliakan hambanya, Ia berikan cobaan kepada hambanya dahulu, kemudian dari situlah kemuliaan itu muncul sesuai dengan kadar sifat tunduknya dan banyaknya ia bersimpuh di hadapan Alloh swt.
Alloh -azza wajalla- telah menyiapkan untuk hamba yang beriman kedudukan yang mulia di surga-Nya, yang tidak bisa dicapai dengan amalan mereka, kedudukan tersebut tidak akan mereka raih kecuali dengan musibah dan cobaan. Oleh karena itulah Alloh jadikan banyak sebab yang dapat mengantarkan mereka kepada derajat tersebut, yaitu dengan menimpakan kepadanya musibah dan cobaan, untuk menguji batin dan membuka apa yang ada di balik tabir. Oleh karena itu, relakanlah apa yang sudah menjadi kepastian bagimu, dan serahkanlah kepada Alloh apa yang sudah menjadi takdirmu.
Sebagian salaf mengatakan: “Seandainya tidak ada musibah, maka tentulah kita akan datang di akhirat dalam keadaan merugi”. Hari-hari di dunia ini akan terus berubah, ia tidak akan tetap pada satu keadaan. Adakalanya menang, kalah, mulia, hina, sakit, sehat, miskin dan kaya. Oleh karena itu manfaatkanlah kesempatan itu untuk simpanan akhiratmu, dan barangsiapa memilih dunianya, niscaya ia akan merugi di akhirat dan agamanya.
Ziarah ke makam syuhada uhud:
Disyariatkan untuk ziarah ke syuhada uhud, karena Nabi -shollallohu alaihi wasallam- dahulu berziarah dan mendoakan mereka. Beliau juga mengajari para sahabatnya ketika berziarah untuk mengucapkan:

السلام عليكم أهل الديار من المؤمنين والمسلمين, وإنا إن شاء الله بكم لاحقون, أسأل الله لنا ولكم العافية (مسلم)ـ

Semoga keselamatan atas kalian, ahli kubur yang mukmin dan muslim, insyaAlloh kami (juga) akan menyusul kalian, aku memohon kepada Alloh untuk keselamatan diriku dan kalian.
Tidak ada doa khusus untuk panglima syuhada uhud (Sahabat Hamzah) maupun syuhada-syuhada yang lainnya.
Kesalahan dan Koreksinya:

  1. Disyariatkannya ziarah Syuhada Uhud adalah untuk mendoakan mereka. Adapun beristighosah dan meminta kepada mereka, itu merupakan perbuatan syirik akbar, Alloh berfirman (yang artinya): “Dan janganlah kamu menyembah apa-apa yang tidak memberi manfaat dan tidak (pula) memberi mudharat kepadamu selain Allah; sebab jika kamu berbuat (yang demikian) itu, Maka sungguh kamu termasuk orang-orang yang zalim”. (Yunus: 106)
  2. Berdoa disamping mayat dengan mengangkat kedua tangan dan menghadap kubur adalah termasuk perbuatan bid’ah (yang tidak dituntunkan oleh Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam-).
  3. Membaca Fatihah atau sebagian surat dari Alqur’an untuk arwah para syuhada uhud adalah termasuk bid’ah (yang tidak dituntunkan oleh Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam-).
  4. Masjid-masjid dan tempat-tempat yang disyariatkan untuk diziarahi di kota madinah adalah: Masjid Nabawi, Masjid Quba, Makam Baqi’ Dan Makam Syuhada Uhud saja. Adapun masjid-masjid dan tempat-tempat yang lain, itu tidak memiliki keutamaan (khusus), sehingga tidak disyariatkan untuk mengunjungi tempat-tempat tersebut (dengan tujuan ibadah).

وصلى الله على نبينا محمد، وعلى آله وصحبه وسلم

Alih bahasa oleh: Abu Abdillah Musyaffa’ Addariny.
Selesai di Madinah, 29 November 2008
Judul Asli:
أحد، نصر لا هزيمة
PERANG UHUD  Sebuah Kemenangan, Bukan Kekalahan
Oleh: Dr. Abdul Muhsin bin Muhammad Alqosim (imam dan khotib Masjid Nabawi)
Artikel: http://addariny.wordpress.com/