Fatawa

Berisi fatwa-fatwa ulama mu’tabar tentang berbagai permasalahan syar’i, untuk menjadi panduan kita dalam upaya mengamalkan ajaran Islam dengan cara dan pemahaman yang benar

Hukum Memalsukan Ijazah Demi Suatu Pekerjaan

Syaikh Abdul Azîz bin Abdullâh bin Bâz rahimahullâh pernah ditanya:

“Jika ada seseorang yang mau mendapatkan suatu pekerjaan, dia (yakin) mampu dalam pekerjaan tersebut serta lolos dalam seleksi, akan tetapi dia tidak memiliki ijazah untuk mendaftar (pekerjaan tersebut-pent)? Apakah dia boleh memalsukan ijazahnya ? Dan apabila dia berhasil, bolehkah dia menerima gajinya atau tidak ?”

Beliau rahimahullâh menjawab :

“Yang saya ketahui menurut hukum syariat mulia ini juga dari tujuan-tujuannya yang luhur, perbuatan itu tidak boleh dilakukan. Karena orang itu memperoleh pekerjaannya dengan cara dusta dan penipuan. Perbuatan ini termasuk perbuatan haram lagi mungkar, bisa membuka peluang keburukan serta peluang melakukan kecurangan. Tidak diragukan lagi, orang yang bertanggung-jawab dalam masalah penerimaan pegawai (yaitu bagian personalia-red) berkewajiban memilih orang-orang yang layak dan amanah semampunya.”

(Tanya-Jawab: Majalah As-Sunnah Edisi 02/Tahun XIII)

Hukum Menjual Alat Pencukur Jenggot

Fatwa no. 8234
Pertanyaan:
Bapak saya bekerja di Iraq dan selalu mengirimi kami uang belanja. Di samping uang belanja, ia mengirim pula beberapa pak pisau cukur untuk kami jual dan hasilnya dipergunakan untuk belanja kami. Hal itu dilakukan karena pertimbangan keuntungan dalam nilai tukar mata uang. Akan tetapi karena umumnya pisau cukur itu dipergunakan untuk mencukur jenggot, jarang sekali dipergunakan untuk mencukur kumis atau bulu kemaluan, saya menjadi ragu, apakah penjualan itu halal atau haram? Apa yang harus kami lakukan dengan uang hasil penjualannya? Dan apabila keluarga meminta dengan sangat untuk menjualnya, bagaimana sikap saya? …

Bolehkah Berjualbeli dengan Orang Kafir Padahal Ada Orang Muslim?

Fatwa no. 3323
Pertanyaan:
Apa hukum meninggalkan kerja sama dengan kaum Muslimin, seperti seorang yang tidak rida dan tidak suka membeli dari kaum Muslimin, tapi dia membeli dari toko milik orang kafir. Apakah perbuatan ini halal atau haram?

Jawaban:
Pada dasarnya seorang Muslim boleh membeli barang yang halal yang dibutuhkannya dari Muslim ataupun orang kafir. Rasulullah sallallaahu ‘alaihi wasallam juga pernah membeli sesuatu dari orang Yahudi.
Akan tetapi bila keengganan seorang Muslim untuk membeli dari saudaranya yang Muslim itu tanpa sebab, seperti karena curang, harga yang tinggi, atau jeleknya kualitas barang, lalu dia lebih senang membeli dari orang kafir, dengan lebih mengutamakannya dari orang Muslim tanpa alasan yang …