Fatawa

Berisi fatwa-fatwa ulama mu’tabar tentang berbagai permasalahan syar’i, untuk menjadi panduan kita dalam upaya mengamalkan ajaran Islam dengan cara dan pemahaman yang benar

Tidak Layak Seorang Wanita Memperdengarkan Bacaan al-Qur’an di Hadapan Laki-Laki Non Mahram

Oleh: Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani Rahimahullah

Sesungguhnya apabila seorang pengajar al-Qur’an (laki-laki) mengajari seorang wanita melalui telepon, kemudian wanita itu membaca Qur’an dan memperdengarkan suaranya kepada pengajar (laki-laki) tadi, maka hukumnya sama dengan mendengarkannya di balik tabir di mana sang guru tidak melihat fisik wanita tersebut. Kedua cara ini sama-sama menimbulkan fitnah, baik dia mendengar suara wanita itu lewat udara yang tanpa kabel, ataupun melalui kabel (telepon), sebab yang jadi masalah adalah suara wanita itu sendiri.
Berbeda dengan anggapan banyak kalangan, suara wanita itu sebenarnya bukanlah aurat, akan tetapi dengan syarat suaranya itu adalah suara yang biasa (asli). Adapun jika seorang wanita membaca al-Qur’an (yang tentunya) disertai gunnah, iqlab, idzhar, mad thabi’i, muthashil, munfashil dan hukum-hukum tajwid lainnya, yang mana hal ini termasuk membaguskan bacaan al-Qur’an yang disebutkan di dalam hadits:

من لم يتغن بالقرآن فليس منا

“Barang siapa yang tidak melagukan al-Qur’an maka bukanlah termasuk golongan kami.”

Berdasarkan hadits ini wanita pun tentunya mesti melagukan al-Qur’an, dan karena itulah menjadi tidak layak apabila dia memperdengarkannya kepada laki-laki secara mutlaq, baik melalui siaran radio ataupun telepon.

Maraji’: Silsilah Fatwa Jeddah Pada Kaset No 20, diterjemahkan oleh Ummu Humam al-Qorutiyyah dan dimuraja’ah oleh Zaujiy dari:

http://www.sahab.net/forums/showthread.php?t=336952

Artikel: www.asya84.wordpress.com

***************
Tulisan Asli

العلامة الألباني: لا ينبغي أن تجود المرأة القرآن أمام الرجال
هذه فتوى للشيخ الألباني من سلسلة فتاوى جدة في الشريط العشرين

قال رحمه الله تعالى:
أن المقرئ إذا كان يُعَلِّم النساء بواسطة الهاتف ثم هنّ يَقْرَأْنَ ويُسْمِعْنَ صوتهن للمقري فالحكم كما لو سمع صوتهنّ من وراء ستارة ولا يرى أجسامهنّ فالفتنة حاصلة على الوجهين سمع صوتهن بواسطة الأثير والهواء دون وسيلة الأسلاك هذه أو بواسطة الأسلاك فالصوت هو صوت المرأة عينه.
وصوت المرأة ليس بعورة خلاف ما هو مشهور عند الناس ولكن يشترط في ذلك أن يكون صوتها ذلك الصوت الطبيعي أما وهي تقرأ بالغنة والإقلاب والإظهار و و إلى آخره والمد الطبيعي والمتصل والمنفصل وهذا هو التجويد ويأتي قوله عليه السلام: (من لم يتغن بالقرآن فليس منا)، إذاً هي ينبغي أن تتغنى بالقرآن فلا ينبغي أن يكون هذا أمام الرجال إطلاقاً سواء كان بواسطة الإذاعة أو بواسطة التلفون

Bolehkah Wanita Belajar Tajwid kepada Guru Laki-laki?

Pertanyaan:
Bolehkah seorang wanita belajar ilmu tajwid dan hukum-hukum bacaan al-qur’an secara lisan serta memperdengarkan bacaannya kepada seorang guru (laki-laki) yang mutqin (kokoh hafalan dan keilmuannya) dengan tetap memakai  hijab (penghalang) dan tidak berkhalwat (berdua-dua an, pent-). Jika hal ini terlarang maka apa nasihat Anda terhadap para guru yang mengajarkan (tajwid) kepada para wanita, yang mana aktifitas itu tidak aman dari fitnah?
Jawaban Syaikh ‘Ali bin Hasan al-Halaby hafidzahullah:
Menurutku, secara prinsip hukumnya tidak boleh dengan alasan seperti yang disebutkan dalam pertanyaan Anda sendiri (tidak aman dari fitnah, pent-). Adapun jika hal ini tidak bisa dihindari, maka haruslah di hadapan guru yang sudah tua lagi terpercaya dengan catatan tidak berkhalwat serta ditemani mahram.
Namun demikian, yang paling utama –tentunya- para wanita belajar al-Qur’an bersama para wanita lagi.
Allah jualah tempat memohon pertolongan
Diterjemahkan dari: http://www.alhalaby.com/play.php?catsmktba=15 oleh Ummu Haitsam al-Qorutiyyah, dan dimuraja’ah oleh Zaujiy
Tulisan: www.asya84.wordpress.com

Hukum Merayakan Tahun Baru Islam

Telah menjadi kebiasaan di tengah-tengah kaum muslimin memperingati Tahun Baru Islam. Sehingga tanggal 1 Muharram termasuk salah satu Hari Besar Islam yang diperingati secara rutin oleh kaum muslimin.
Bagaimana hukum memperingati Tahun Baru Islam dan menjadikan 1 Muharram sebagai Hari Besar Islam? Apakah perbuatan tersebut dibenarkan dalam syari’at Islam?
Berikut penjelasan Asy-Syaikh Al-’Allâmah Al-Faqîh Muhammad bin Shâlih Al-’Utsaimîn rahimahullahu Ta’ala ketika beliau ditanya tentang permasalahan tersebut. Beliau adalah seorang ahli fiqih paling terkemuka pada masa ini.
Pertanyaan :
Telah banyak tersebar di berbagai negara Islam perayaan hari pertama bulan Muharram pada setiap tahun, karena itu merupakan hari pertama tahun hijriyyah. Sebagian mereka menjadikannya sebagai hari libur dari bekerja, sehingga mereka tidak masuk kerja pada hari itu. Mereka juga saling tukar menukar hadiah dalam bentuk barang. Ketika mereka ditanya tentang masalah tersebut, mereka menjawab bahwa masalah perayaan hari-hari besar kembalinya kepada adat kebiasaan manusia. Tidak mengapa membuat hari-hari besar untuk mereka dalam rangka bergembira dan saling tukar hadiah. Terutama pada zaman ini, manusia sibuk dengan berbagai aktivitas pekerjaan mereka dan terpisah-pisah. Maka ini termasuk bid’ah hasanah. Demikian alasan mereka.
Bagaimana pendapat engkau, semoga Allah memberikan taufiq kepada engkau. Kami memohon kepada Allah agar menjadikan ini termasuk dalam timbangan amal kebaikan engkau.

Asy-Syaikh Muhammad bin Shâlih Al-’Utsaimîn rahimahullahu Ta’ala menjawab :

تخصيص الأيام، أو الشهور، أو السنوات بعيد مرجعه إلى الشرع وليس إلى العادة، ولهذا لما قدم النبي صلى الله عليه وعلى آله وسلم المدينة ولهم يومان يلعبون فيهما فقال: «ما هذان اليومان»؟ قالوا: كنا نلعب فيهما في الجاهلية، فقال رسول الله صلى الله عليه وعلى آله وسلم: «إن الله قد أبدلكم بهما خيراً منهما: يوم الأضحى، ويوم الفطر». ولو أن الأعياد في الإسلام كانت تابعة للعادات لأحدث الناس لكل حدث عيداً ولم يكن للأعياد الشرعية كبير فائدة.

ثم إنه يخشى أن هؤلاء اتخذوا رأس السنة أو أولها عيداً متابعة للنصارى ومضاهاة لهم حيث يتخذون عيداً عند رأس السنة الميلادية فيكون في اتخاذ شهر المحرم عيداً محذور آخر.

كتبه محمد بن صالح العثيمين، 24/1/1418  هـ

Pengkhususan hari-hari tertentu, atau bulan-bulan tertentu, atau tahun-tahun tertentu sebagai hari besar/hari raya (‘Id) maka kembalinya adalah kepada ketentuan syari’at, bukan kepada adat. Oleh karena itu ketika Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam datang datang ke Madinah, dalam keadaan penduduk Madinah memiliki dua hari besar yang mereka bergembira ria padanya, maka beliau bertanya : “Apakah dua hari ini?” maka mereka menjawab : “(Hari besar) yang kami biasa bergembira padanya pada masa jahiliyyah. Maka Rasulullâh shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Sesungguhnya Allah telah menggantikan dua hari tersebut dengan hari raya yang lebih baik, yaitu ‘Idul Adh-ha dan ‘Idul Fitri.“
Kalau seandainya hari-hari besar dalam Islam itu mengikuti adat kebiasaan, maka manusia akan seenaknya menjadikan setiap kejadian penting sebagai hari raya/hari besar, dan hari raya syar’i tidak akan ada gunanya.
Kemudian apabila mereka menjadikan penghujung tahun atau awal tahun (hijriyyah) sebagai hari raya maka dikhawatirkan mereka mengikuti kebiasaan Nashara dan menyerupai mereka. Karena mereka menjadikan penghujung tahun miladi/masehi sebagai hari raya. Maka menjadikan bulan Muharram sebagai hari besar/hari raya terdapat bahaya lain.
Ditulis oleh : Muhammad bin Shâlih Al-’Utsaimin
24 – 1 – 1418 H
[dinukil dari Majmû Fatâwâ wa Rasâ`il Ibni ‘Utsaimîn pertanyaan no. 8131]
Artikel:  http://alqiyamah.wordpress.com/2009/12/11/hukum-memberi-ucapan-selamat-tahun-baru-hijriyah/